Tampilkan postingan dengan label Hadist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadist. Tampilkan semua postingan

09 Februari, 2010

Aduh kenapa ya akhir-akhir ini selalu berpikiran tentang perkulihan yang membuat perasaan menjadi kacau. Bangun tidur sampe tidur lagi pikirannya bagaimana IPK bisa Baik, Ntar Buat TA bisa gampang, sampe berpikir bagaimana biar ntar kalo lulus bisa gampang kerja? Sholat sih jarang bolong (Lah ko jarang harusnya jangan dong.hehehe), Tapi kayanya sholat yang saya lakukan cuma ngejalanin kewajiban aja (kalo ga dilaksanain ga enak aj), Hafalan-hafalan juga dah terbang jauh kemana tergantikan hafalan-hafalan pelajaran yang siap buat dilupain lagi. Pusing, Penat, dan Kacau yang sekarang terasa. Padahal niatnya saya kuliah itu untuk membuat saya bisa mendekati Allah lebih dekat pendapat ini saya percaya karena banyak orang yangberpendapat seperti ini "kalau kuliahnya bener ntar kerjannya gampang, kalo kerjannya gampang, ntar duitnya banyak, kalo duitnya banyak ntar hidupnya enak, kalo hidupnya enak, ibadahnya enak. (nah loh jadi kalo mau ibadah harus hidupnya enak dulu? Padahal bukannya Ibadah itu untuk membuat hidup kita enak?).  Jadi berpikir mana yang lebih penting antara kuliah atau agama yang lebih penting. Jika kedunnya memang penting bagaimana caranya agar bisa menyeimbangkannya? Ingin rasanya seperti Harun Yahya mencari ilmu tapi dalam waktu yang sama mencari Hakikat ke-esaan Allah. Ingin rasanya Yusuf Islam (Cat Steven) Bernyanyi tapi dalam waktu yang sama mencari Hakikat ke-esaan Allah.

(Setelah membaca Hadist)
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasululullah saw. bersabda, "Pada hari Kiamat akan ada penyeru yang akan memanggil, 'Dimanakah orang yang berakal? "Orang banyak akan bertanya, "Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang berakal itu? "Penyeru itu berkata, "mereka itu ialah orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, 'Ya Allah, Tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka periharalah kami dari siksa api neraka'. Sebuah bendera akan diikatkan kepada mereka, maka orang-orangpun berjalan mengikuti bendera meraka. kemudian penyeru itu berkata mereka, 'masuklah kalian kedalam surga untuk selama-lamanya'. " (HR. Al Ashbahani)
dari Fadillah Amal 

www.amiboyz.co.cc

20 November, 2008

Islamnya Bilal Bin Rabah Al Habsyi R.A.

Islamnya Bilal Bin Rabah Al Habsyi R.A. Dan Penderitaannya

Bilal Bin Rabah r.a Adalah Sahabat Nabi saw. yang sangat terkenal. Dia adalah seorang mu’adzin (juru adzan) di mesjid Nabawi. Sebelumnya ia adalah seorang hamba sahaya dari seorang kafir Quraisy, kemudian dia mendapatkan hidayah dari ALLAH swt. untuk memeluk agama yang sangat sempurna yaitu agama Islam. Keislaman dari seorang Bilal r.a. telah menyebabkan dia mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan yang teramat sakit akibat dari perlakuan orang-orang kafir Quraisy. Umayah bin Khalaf adalah seorang kafir yang sangat keras memusuhi orang islam pada zaman itu, dia telah membaringkan Bilal r.a. dia atas padang pasir yang sangat panas ketika matahari sedang terik sambil menindih Bilal dengan batu yang besar di atas dadanya, sehingga Bilal r.a. tidak bisa menggerakan seluruh badannya sedikit pun. ”Apakah kamu bersedia mati dalam seperti ini? Ataukah kamu mau terus hidup, teatpi dengan syarat kamu harus harus meniggalkan agama Islam?” Walaupun Bilal r.a. di tekan dan di siksa seperti ittu, namun dia terus mengatakan, “Ahad! Ahad!” (yang maksudya ALLAH Maha Esa)

Pada malam harinya, Bilal r.a. diikat dengan rantai, kemudian di cambuk terus menerus yang memyembakan tubuh Bilal r.a. penuh dengan luka-luka. Pada siang harinya, Dia dibaringkan kembali di atas pasir yang sangat panas. Tuannya berharap Bilal r.a. kan mati dalm keadaan seperti itu. Orang kafir yang menyiksa Bilal r.a. silih berganti tiada henti, suatu kali Abu Jahal yang menyiksanya, terkadang Umayah bin Khalaf, Bahkan orang kafir Quraisy lainnya ikut menyiksanya. Mereka berusaha sekuat tenaga mereka untuk menyiksa Bilal r.a., dengan tujuan agar Bilal r.a. meninggalkan agama Islam, tetapi sebaliknya semakin penyiksaan itu dantang Bilal r.a. semakin kuat memeluk agama Islam yang sempurna itu. Dan ketika Abu Bakar r.a. melihat penderitaan yang dialami Bilal r.a., beliau segera membeli Bilal r.a. dari kafir Quraisy dengan harga yang sangat mahal dan membebaskannya.

Hikmah dari kisah di atas:

Orang Arab jahiliyah, ketika itu menyembah berhala. Karena itulah, Islam yang mengajarkan ketauhidan itu mengubah keyakinan mereka, yaitu hanya menyembah ALLAH swt.. inilah yang menyebabkan Bilal r.a. mengucapkan “Ahad! Ahad!” Hal ini disebabkan keyakinan yang sangat kuat. Sekarang, seberapa kuat keimanan dan kecintaan kita kepada ALLAH swt.? Jangankan untuk disiksa seperti itu dengan ketakutan kita kepada kemiskinan saja, kita mampu menggadaikan bahkan menjual keyakinan dan keimanan kita kepada ALLAH swt. naudzubillah minzalik.

Inilah contoh dari kehidupan yan gpernah dialami dari Bilal r.a.. Sebelum Rasululloh saw. wafat, dia bertugas sebagai juru adzan di mesjid Nabawi. Setelah Rasululloh saw. wafat, pada mulanya ia tetap tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi karena tidak kuat menahan kesedihan setiap kali melewati makam Rasululloh saw., akhirnya dia meninggalkan Madinah dan pergi bersam pasukan jihad fi sabilillah. Sampai beberapa waktu lamanya dia tidak kembali ke Madiah.

Pada suatu hari, dia bermimpi bertemu Rasululloh saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw. bersabda kepadanya, “Wahai Bilal, apa menghalangi sehingga engkau tidak pernah berziarah ke makamku ?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal r.a. pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain r.a. meminta Bilal r.a. untuk mengumandangkan adzan. Dia tidak bisa menolak permintaan dari orang-oran gyang dicintainya itu. Ketika dia mulai adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti zaman Rasululloh saw. Hal itu sangat menyentuh perasaan dari hati penduduk Madainah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah mereka masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan dari Bilal r.a., setelah beberapa hari lamanya Bilal r.a. tinggal di Madinah, akhirnya dia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana tahun Kedua puluh Hijriyah. (Asabul Ghabah)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |