Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

06 Mei, 2011

Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso

Walaupun saya bukan mahasiswa UGM namun saya tetap terharu membaca sedikit cerita mengenai beliau. Semoga semakin banyak orang-orang seperti beliau…

 

imageDi usia 84 tahun masih mengajar program S-2 dan melakukan penelitian tentang teknik sipil hidro tradisional. Pensiun dini di usia 56 tahun agar bisa melanglang ke sejumlah daerah untuk memecahkan masalah pengairan. Menciptakan Tripikon, Pinastik A, Nyi Bunga Sihir, dan Nalareksa Bak Jantung. Tak haus tropi dan penghargaan. Resep bugarnya, mengangkut air di tengah malam.

BEBERAPA mahasiswa nampak duduk santai di halaman depan gedung Laboratorium Teknik Tradisional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mahasiswa S-2 Program Teknik Sipil Hidro itu tengah menunggu kuliah yang diberikan Profesor Ir Hardjoso Prodjopangarso.

Tepat pukul 09.00, sesuai jadual, nampak Pak Dosen dengan perawakan kecil dan terlihat sangat uzur itu berjalan mendekati kerumunan mahasiswa itu. Profesor Hardjoso menyapa mereka dengan ramah. Ia berjalan pelan menuju ruang terbuka di sebelah gedung. Para mahasiswa mengikutinya. Selama 45 menit dosen sangat senior itu memberikan penjelasan mengenai teknologi tradisional pengairan pasang surut.

Hardjoso Prodjopangarso sebenarnya sudah pensiun sebagai guru besar UGM. Ia menggapai guru besar pada 1967. Hardjoso mengajukan pensiun dini pada usia 56 tahun. Bukan karena ia tak mau lagi mengajar. Namun justru ia ingin bisa berbuat banyak dengan ilmunya. Bukan saja buat alamamaternya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, juga untuk masyarakat luas.

Prinsip untuk selalu memberikan ilmu bermanfaat bagi masyarakat banyak itu teguh dipegangnya. Di usia yang memasuki 84 tahun, pada 9 Mei lalu itu, Hardjoso masih aktif mengajar. Juga melakukan sejumlah penelitian. Ia bahkan menyetir sendiri mobilnya ke manapun dia pergi. Memang, tak segesit masa mudanya.

MAHASISWA NOMOR URUT SATU

Masa kecil Hardjoso dihabiskan di Surakarta. Pendidikan dasar dituntaskan di di RK Hollandsch Inlandsche School (HIS) Purbayan Surakarta pada 1937. Di masa remajanya, Hardjoso pindah ke Jakarta. Ia menamatkan studinya di RK Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Sekolah Menengah Teknologi, dua-duanya di Jakarta.

Tahun 1946, di masa perang kemerdekaan, Hardjoso tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik (STT) di Yogyakarta. STT adalah cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hardjoso bangga ia menjadi mahasiswa pertama yang mendaftar di STT. ”Kalau Anda lihat daftar alumni Fakultas Teknik UGM saya merupakan mahasiswa teknik dengan Nomor Induk Mahasiswa 1,” kata Hardjoso mengenang.

Di awal kuliahnya itu, Hardjoso ikut berperang ketika penjajah Belanda berusaha mengusai kembali Indonesia, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan (1947-1949). Ia masuk Korps Mahasiswa Kompi M, Brigade Tujuh Belas.

Insinyur Teknik Sipil direngkuhnya pada 1953. Pilihannya pada teknik sipil dengan alasan, “Saya senang masyarakat sipil. Tugas pokoknya membuat bangunan-bangunan, jaringan air minum, fasilitas-fasilitas umum yang semuanya berfungsi untuk melayani masyarakat.”

Toh, ia tak langsung mengajar setelah lulus. Ia bekerja di Departemen Kesehatan selama lima tahun. Baru sejak 1958 ia menjalani profesi sebagai dosen di UGM Yogyakarta.

DARI TRIPIKON S HINGGA NYI BUNGA SIHIR

Ilmunya benar-benar dikembangkan untuk kepentingan masyarakat. Hardjoso memang getol melakukan survei di sejumlah daerah di Tanah Air. ”Separo hidup saya dihabiskan untuk survei keluar masuk belantara dan menjelajahi rawa. Sampai saat ini ada yang menganggap saya ahli bidang penanganan rawa,” kata Hardjoso.

Hobinya keluar masuk pedalaman itu kini dikenang masyarakat daerah karena teknologi ciptaannya. Ia meninggalkan sejumlah karya bidang pemeliharaan teknologi dan ekologi. Misalnya, pengairan pasang-surut di Kalimantan dan Sumatera. Kalangan teknik sipil mafhum betul siapa pencipta teknologi Tripikon-S.

Tripikon-S adalah teknologi penanganan limbah untuk daerah dengan kondisi air tanah tinggi, daerah berair dan rawa-rawa. Kisah proses kreatif terciptanya Tripikon-S ini cukup unik. Bermula dari keikutsertaan sang profesor menangani proyek pasang-surut Departeman Pekerjaan Umum di Kalimantan. Ia sempat berdialog dengan Walikota Pontianak.

“Pada waktu itu walikota bilang perguruan tinggi itu bisanya cuma ngritik saja mbok saya diberitahu bagaimana caranya melayani masyarakat?” kata Hardjoso menirukan ucapan Pak Walikota.

”Saya merasa disinggung sebab saya berasal dari perguruan tinggi. Saya jawab, ’Pak, satu bulan lagi saya kembali. Nanti penyelesaiannya saya akan berikan langsung kepada Bapak. Muncullah ide menciptakan Tripikon-S ini dan bisa diterapkan,” kata Hardjoso.

Selain Tripikon-S sebenarnya masih ada temuan teknologi tepat guna buat masyarakat pedesaan. Di antaranya Pinastik A, Nyi Bunga Sihir, dan Nalareksa Bak Jantung. Semua teknologi ciptaannya itu berkaitan dengan instalasi bangunan air. Meski banyak temuannya, tak pernah muncul keinginan Hardjoso mempatenkan karyanya. Ia tak haus puja-puji. Apalagi sekadar penghargaan. Ia bahkan menolak pemberian Anugerah Hamengku Buwono IX pada 2006 lalu.

LITERATUR DALAM NEGERI

Kini, di usia sepuh, waktunya di luar rumah ia habiskan di Laboratorium Teknologi Tradisional di Yogyakarta, tak jauh dari kampus UGM di Bulaksumur. Ia memang tak lagi getol ke luar kota melakukan survei keluar masuk pedalaman.

Toh, namanya tetap tak hilang dari pembicaraan. Pada pertemuan di UGM Yogyakarta, dalam rangka gerakan ketahanan pangan Hardjoso diundang sebagai pembicara kunci. Hadir di situ menteri pekerjaan umum, menteri negara tenaga kerja dan transmigrasi dan menteri pertanian. Juga gubernur Papua, Kalimantan Tengah dan Yogyakarta.

“Saya diminta memberi saran-saran dan masukan. Saran saya sudah lampau. Ketika masih aktif antara tahun 1968 hingga 1986 saat membuka rawa-rawa. Meskipun saat ini di laboratorium masih aktif melaksanakan penelitian-penelitian. Di laboratorium segala sesuatu saya sederhanakan, ya ilmu, ya teknologi, supaya bisa sampai ke rakyat paling bawah,” kata Hardjoso merendah.

Masih menggeliat dalam benaknya, betapa pemerintah masih belum mengelola kekayaan alam di Tanah Air. Menurutnya, di luar Pulau Jawa masih banyak kekayaan belum tersentuh, seperti rawa dan gambut tebal. Semua itu belum dimanfaatkan optimal. Penelitian yang menyentuh area rawa dan gambut itu belum banyak dilakukan.

“Kekayaan Indonesia luar biasa tapi harus tahu cara menangani. Disamping keterampilan, cinta Tanah Air juga dibutuhkan,” ujarnya.

Sayangnya, perguruan tinggi tak mengajarkan lagi bagaimana mengelola lahan belum produktif semacam rawa dan gambut. ”Saya setuju sekali ketahanan pangan bisa dihasilkan di rawa. Saya ceritakan bagaimana ketika membangun perairan pasang surut mulai 1968 hingga 1986,” kata Hardjoso.

Hardjoso hanya bisa berharap, perguruan tinggi tak hanya memberikan saran mahasiswanya memperlajari literatur asing. Padahal banyak literatur dari dalam negeri yang lebih berbasis pada kondisi di Tanah Air.

Itulah kenapa di usia senjanya, Profesor Hardjoso tetap senang berlama-lama di laboratorium teknologi tradisional. Bangunan laboratorium kini menjadi lebih megah. Ruang kerja Hardjoso juga lapang dan berpendingin udara. “Sebenarnya saya tidak suka ruangan ber AC namun untuk menghormati pemberian dari Departemen Pekerjaan Umum, ya akhirnya saya tempati juga,” katanya.

GUGUR DALAM PENELITIAN

Tentu hal itu berlainan dengan mahasiswanya yang lebih suka kuliah di ruang berpendingin udara. Padahal, semasa ia kuliah tantangannya ikut mempertahankan kemerdekaan. Banyak mahasiswa gugur di medan pertempuran. Memang, semasa menjadi dosen dan peneliti, ada mahasiswanya yang sampai gugur sewaktu melakukan penelitian. “Asisten saya ada yang tenggelam, belum lagi yang dipatuk ular,” ujarnya mengenang.

Herannya, mahasiswa sekarang justru bertempur sendiri, antarfakultas. Hardjoso berharap rasa cinta Tanah Air kembali dipupuk. ”Dulu, ketika didendangkan Indonesia Raya, kami bisa mbrebes mili (berurai air mata),” kata Hardjoso mengenang.

Ia menularkan rasa cinta Tanah Air itu saat memberikan pembekalan program KKN mahasiswa UGM Yogyakarta. Di Laboratorium Teknologi Tradisional, memang ada beragam teknologi tradisional yang tepat guna di pedesaan. Ada pengairan subak, rumah honai, dan model tripikon karya Hardjoso. “Kalau ada rasa cinta Tanah Air, generasi muda mampu mengurangi gesekan-gesekan antar mereka.

RESEP BUGAR SANG PROFESOR

USIA 84 tahun tentunya rentang umur yang panjang. Tak semua orang bisa mencicipinya. Terlebih di usia itu masih punya daya ingat yang brilian seperti Profesor Hardjoso. Apa resepnya tetap bugar dan punya daya ingat? “Saya tidak pernah minum obat-obatan seperti obat kuat dan sebagainya,” katanya.

Resep penting lainnya: selalu menyukai dan tidak pernah membandingkan dengan orang-orang yang punya kedudukan di atas. ”Saya selalu apa adanya. Apa-apa yang Tuhan beri selalu saya syukuri,” katanya.

Hardjoso bahkan tak punya ambisi muluk-muluk. Kalaulah disebut ambisi, kaya Hardjoso, ia ingin ilmu dan teknologi bisa sampai ke rakyat paling bawah. ”Melalui Kuliah Kerja Nyata, saya sampaikan ke desa-desa bagaimana membuat alat bermanfaat.”

Ia menyebut obsesinya itu ambisi lunak. ”Mungkin hal ini yang membuat saya masih aktif hingga saat ini. Saya juga masih nyetir mobil sendiri,” ujarnya.

Satu kegiatan unik ia lakukan untuk menjaga stamina. “Olahraga saya antara lain di tengah-tengah tidur malam saya bangun dan jalan-jalan mengisi bak air mandi. Kualitas air minum dari ledeng kurang bagus makanya harus diisi dengan air dari sumur dengan pompa,” tuturnya. Olahraga malam ala sang profesor itu rupanya berdampak pada kualitas tidurnya yang disebut jadi lebih baik. “Tidur malam saya jadi lebih nyenyak.”

Resep penting agar bisa tetap berkarya di usia senja menurutnya adalah cinta Tanah Air, dan selalu punya misi membantu masyarakat. ”Ada satu lagi: dukungan istri dan keluarga.”

MF. ARIEF

29 November, 2009

Sejarah Dari Freemansonry (Illuminati)

Kabbalah atau Qibil dalam bahasa Ibrani awalnya adalah istilah yang netral, yang secara harfiah memiliki arti sebagai ‘lisan’. Namun belakangan, ketika kaum Yahudi menggunakan istilah ini untuk menyembunyikan dan memelihara kepercayaan mistis-esoteris kelompok mereka, maka istilah ini menjadi sangat politis. Encarta Encyclopedia (2005) menuliskan bahwa istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang.
Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun. Kabbalah ini sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat-Musa dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat-berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi di zaman Mesir Kuno. Hal tersebut diutarakan pakar sejarah Yahudi Fabre d’Olivet. “Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, ” jelas d’Olivet. Banyak kalangan percaya, Kabbalah adalah induk dari segala induk ilmu sihir yang ada di dunia hingga hari ini.

Merunut akar Kabbalah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Para sejarawan Barat menyepakati bahwa Kabbalah merupakan kepercayaan inti dari kelompok mistis tertua dunia yang dikenal dengan sebutan Brotherhood of the Snake (Kelompok Persaudaraan Ular). Rezim Raja Namrudz di Babilonia dan Firaun di Mesir merupakan tonggak-tonggak awal yang amat penting bagi perjalanan kepercayaan ini. Di masa-masa pra dan awal Perang Salib, sekitar abad ke-11 Masehi, Kabbalah mulai menampakkan diri di daerah Perancis Selatan. Peneliti Kabalah Barat, Olivia Prince dan Lynn Picknet, yang kemudian menulis The Templar Revelation, menyatakan bahwa pembawa ajaran ini salah satunya adalah kedatangan sepasukan ksatria Yohanit dari Calabria, Belgia, ke sebuah wilayah yang dikuasai Mathilda de Tuscany dan Godfroi de Boullion.

Ksatria-ksatria Yohanit ini tidak lama tinggal di Perancis. Mereka pergi dan meninggalkan Peter si Pertapa (Peter The Hermit) yang kemudian menjadi “murabbi” bagi Godfroi de Bouillon. Peter ini kemudian menyusup ke Vatikan dan menjadi provokator bagi Paus Urbanus II yang kemudian mengobarkan perang salib guna merebut Yerusalem dari kekuasaan umat Islam. Dalam serangan Tentara Salib pertama di tahun 1099, baik Peter maupun Godfroi menjadi panglima bagi pasukannya masing-masing. Di hari kejatuhan Yerusalem, Godfroi mendirikan Ordo Biarawan Sion dan 20 tahun kemudian membentuk ordo militer Knights Templar, yang kemudian pada 1307 di Skotlandia mengganti namanya menjadi Freemasonry.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |