28 Juli, 2009

Persamaan Bernoulli

Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah di dalam mekanika fluida yang menyatakan bahwa pada suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan tekanan pada aliran tersebut. Prinsip ini sebenarnya merupakan penyederhanaan dari Persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama. Prinsip ini diambil dari nama ilmuwan Belanda/Swiss yang bernama Daniel Bernoulli.

Hukum Bernoulli

Dalam bentuknya yang sudah disederhanakan, secara umum terdapat dua bentuk persamaan Bernoulli; yang pertama berlaku untuk aliran tak-termampatkan (incompressible flow), dan yang lain adalah untuk fluida termampatkan (compressible flow).

[sunting] Aliran Tak-termampatkan

Aliran tak-termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan tidak berubahnya besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran tersebut. Contoh fluida tak-termampatkan adalah: air, berbagai jenis minyak, emulsi, dll. Bentuk Persamaan Bernoulli untuk aliran tak-termampatkan adalah sebagai berikut:

 p + \rho g h + \frac{1}{2}\rho v^2 = konstan \,

di mana:

v = kecepatan fluida
g = percepatan gravitasi bumi
h = ketinggian relatif terhadapa suatu referensi
p = tekanan fluida
ρ = densitas fluida

Persamaan di atas berlaku untuk aliran tak-termampatkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:

  • Aliran bersifat tunak (steady state)
  • Tidak terdapat gesekan

Dalam bentuk lain, Persamaan Bernoulli dapat dituliskan sebagai berikut:

 p_1 + \rho g h_1 + \frac{1}{2}\rho v_1^2 = p_2 + \rho g h_2 + \frac{1}{2}\rho v_2^2

[sunting] Aliran Termampatkan

Aliran termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan berubahnya besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran tersebut. Contoh fluida termampatkan adalah: udara, gas alam, dll. Persamaan Bernoulli untuk aliran termampatkan adalah sebagai berikut:

 {v^2 \over 2}+ \phi + w =\mathrm{konstan}

di mana:

\phi \, = energi potensial gravitasi per satuan massa; jika gravitasi konstan maka \phi = gh \,
 w \, = entalpi fluida per satuan massa
Catatan:  w = \epsilon + \frac{p}{\rho} , di mana  \epsilon \, adalah energi termodinamika per satuan massa, juga disebut sebagai energi internal spesifik.

25 Juli, 2009

Kegagalan hanyalah sebuah mitos

salam kepada para pembaca, mungkin tulisan saya kali ini agak berbeda dengan tulisan-tulisan yang lain. tulisan ini saya maksudkan agar saya selalu dapat menginggat apa yang baru saja saya pikirkan. pikiran saya sengaja saya biarkan untuk masuk kedalam otak saya di saat saya duduk di depan meja belajar saya. Dan menurut saya sangat perlu untuk tulisan ini saya tulis.

Pikiran itu memiliki beberapa sebuah kesimpulan salah satunya adalah seperti yang tertera pada judul diatas yaitu Kegagalan hanyalah sebuah mitos. Pasti ada sebuah alasan mengapa saya menulis statement tersebut. sebelumnya mungkin saya akan memberikan umpan untuk dapat sampai pada statement itu. pastinya kita telah menyadari bahwa seluruh kehidupan ini berjalan dengan kesempurnaan, memiliki sebuah hubungan yang selaras satu sama lain. tidak dapat kita untuk merubah sedikitpun Sunahtullah (kodrat) itu. yang terkadang mungkin kita ingin pergi ke masa lalu dengan maksud agar memperbaiki masa depan kita, seandainya saya dapat pergi pada saat ibuku belum meninggal mungkin saya akan berbuat sangat baik padanya. atau seandainya saya dapat pergi ke masa lalu maka kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi dan saya dapat memandangi wajah indah ibu saya. tapi tu tidak akan pernah terjadi seperti dalam sebuah hadist "........seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan shohih). kalimat yang saya bold adalah pernyataan yang sangat jelas. Nah jika pena telah diangkat maka tidak akan ada ketetapan baru lagi yang ditulis dalam takdir kehidupan dan jika tinta telah kering maka tidak akan sesuatu yang tertulis itu akan hilang atau sebuah takdir tidak terjadi. Dan bagaimana dengan sebuah kegagalan? apakah dalam sebuah tulisan itu Allah sengaja menulis sebuah kegagalan pada kita yang membuat kita semakin terpuruk? atau kita sendiri yang menggangap sebuah tulisan-tulisan indah dan sempurna ini adalah kagagalan? dan jawaban ini mungkin saya jabarkan berikut.

terkadang kita melihat di sekililing kita menggatakan
"saya telah gagal menjadi anak yang baik bagi orang tua saya",
"saya telah gagal dalam menjalin sebuah hubungan",
"saya telah gagal dalam membentuk negara ini menjadi negara yang lebih baik",
"saya telah gagal untuk menjadi mahkluk tuhan (Allah SWT) yang taat".


dan seiring dengan kata itu keluar dari mulut maka bersamaan pula kegagalan-kegagalan yang mereka anggap akan selalu bersamanya hingga kapan pun bahkan setelah kematian datang yaitu akhirat (neraka). Bagaimana agar kegagalan itu tidak menghampiri kita? mungkin orang-orang di sekitar kita mengatakan "You must work harder" atau kau harus melakukan yang lebih keras lagi. tapi ternyata yang saya lihat orang yang menuruti perintah itu malah lebih masuk kedalam lubang kegagalan yang mereka anggap itu. contoh real sederhananya mungkin pada saat seorang calon mahasiswa mendaftar dalam perguruan tinggi favorite dalam tes pertama dia tidak mendapatkan kursi yang dia inginkan dan dia anggap itu adalah sebuah kegagalan dan yang hanya dalam pikirannya bagaimana agar dia dapat menghilangkan kegagalan dalam dirinya, yaitu dengan lolos dalam tes itu. orang-orang disampingnya mengatakan bahwa dia adalah orang yang gagal, "padahal sebelum test saya telah belajar dengan sangat giat tapi menggapa saya tidak lolos tapi teman saya kelihatannya tidak belajar dengan giat dapat lolos dalam tes itu".orang-orang di sekelilingnya mengganjurkan kamu harus belajar lebih keras lagi lewati malammu dengan belajar. dengan perasaan yang dipenuhi dengan nafsu mendapatkan kursi yang dinginkannya dia lakukan apapun karena dengan dia lolos Perguruan tinggi itu dia dapat dikatakan orang berhasil. Padahal buktinya tidak jika ia lolos di perguruan tinggi itu masih banyak "ladang-ladang" yang akan membuat dia merasa gagal seperti tidak mencapai nilai IP yang dinginkan, DO, menjadi mahasiswa abadi ataupun dia tidak bekerja di tempat yang dia tekuni selama kuliah. dan semakin tinggi kedudukan kita maka kegagalan yang kita anggap itu pun semakin besar.

Lalu apa itu kegagalan ? Menurut saya "kegagalan yang kita anggap itu" kurang lebih adalah sebuah perasaan yang tidak dapat menerima atau menolak keadaan yang dialami. jadi kegagalan adalah hanya sebuah mitos yang dipercayai oleh orang-orang yang tidak dapat atau menolak keadaan yang dialami. Nah berarti cara agar kita tidak di datangi "kegagalan yang kita anggap" itu hanya menerima atau menyerahkan diri secara Ikhlas kepada setiap keadaan yang kita alami. apakah semudah itu ? padahal ada orang yang belajar teknik sipil tinggi-tinggi untuk dapat menghindari kegagalan dalam membuat gedung atau ada orang yang belajar sistem management betahun-tahun untuk menghindari kebangkrutan. jawaban saya YA hanya dengan cara itulah kita dapat menghindari kegagalan itu, toh dapat kita lihat banyak pula gedung-gedung yang buat oleh teknik sipil akan roboh dan banyak pula para ahli ekonomi yang mengalami kebangkrutan. dan jika kita dapat melakukan itu maka kita mungkin akan bersama dengan orang-orang besar seperti Nabi Muhammad SAW, Aristoteles, Siddhartha Gautama, Imam Al Ghazali dan orang besar lainnya saya yakin tidak mempercayai sebuah mitos itu, orang-orang yang telah menyerahkan diri kepada setiap keketapan yang telah di tetapkan oleh Allah SWT. Dan maka dari itu lah barangsiapa yang masuk kedalam Islam yang artinya menyerahkan diri ke Allah pasti akan selamat dunia dan akhirat.

bersemangat dalam menjalani kehidupan yang singkat ini ingat bahwa aliran air sungai akan terus mengalir dari yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan tidak dapat jalan mundur jika selama tidak diberikan gaya. mas.a depan dan masa lalu tidak ada yang tahu kecuali Allah yang kita tahu hanya hari ini, detik ini

semua yang benar datangnya dari Allah dan yang salah dari kebodohan saya sendiri. terus

22 Juli, 2009

Scientists Find Tsunami 'Shadow' Visible From Space

ScienceDaily (July 16, 2009) — For the first time, NOAA scientists have demonstrated that tsunamis in the open ocean can change sea surface texture in a way that can be measured by satellite-borne radars. The finding could one day help save lives through improved detection and forecasting of tsunami intensity and direction at the ocean surface.
“We’ve found that roughness of the surface water provides a good measure of the true strength of the tsunami along its entire leading edge. This is the first time that we can see tsunami propagation in this way across the open ocean,” said lead author Oleg Godin of NOAA’s Earth System Research Laboratory and the Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences, in Boulder, Colo.

Large tsunamis crossing the open ocean stir up and darken the surface waters along the leading edge of the wave, according to the study. The rougher water forms a long, shadow-like strip parallel to the wave and proportional to the strength of the tsunami. That shadow can be measured by orbiting radars and may one day help scientists improve early warning systems. The research is published online this week in the journal, Natural Hazards and Earth System Sciences.

The new research challenges the traditional belief that tsunamis are too subtle in the open ocean to be seen at the surface. The findings confirm a theory, developed by Godin and published in 2002-05, that tsunamis in the deep ocean can be detected remotely through changes in surface roughness.

In 1994, a tsunami shadow was captured by video from shore moments before the wave struck Hawaii. That observation and earlier written documentation of a shadow that accompanied a deadly tsunami on April 1, 1946, inspired Godin to develop his theory. He tested the theory during the deadly December 26, 2004, Indian Ocean tsunami, the result of the Sumatra-Andaman earthquake.

Godin and colleagues analyzed altimeter measurements of the 2004 tsunami from NASA’s Jason-1 satellite. The data revealed clear evidence of an increased surface roughness along the leading edge of the tsunami as it passed across the Indian Ocean between two and six degrees south latitude.

Tsunamis can be detected in several ways. One detection method uses a buoy system that warns coastal communities in the United States of an approaching tsunami. NOAA’s Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART) early warning system uses sensors on the ocean floor to measure changes in pressure at each location. The DART network of 39 stations extends around the perimeter of the Pacific Ocean and along the western edge of the North Atlantic Ocean and Gulf of Mexico. The technology provides accurate, real-time information on the amplitude, over time, of an approaching tsunami. NOAA's tsunami warning centers then use this information to forecast the tsunami's impact on coastlines.

A second method uses space-borne altimeters to detect tsunamis by measuring small changes in sea surface height. Only a handful of these instruments are in orbit and the observations are limited to points along a line.

The new study presents a third way to detect tsunamis — by changes in the texture of the surface water across a wide span of the open ocean.

Godin’s research confirmed his theory that a tsunami wave roughens the surface water through air-sea interaction. First the leading edge of the tsunami wave stirs up the surface winds. Those same winds, which become more chaotic than the wave itself, then churn the surface waters along the slope of the wave.

Because rough water is darker than smooth water, a contrast forms between the dark, rough water of the wave and the bright, smooth water on either side of it. Common scientific instruments, called microwave radars and radiometers, are able to detect this contrast, known as a tsunami shadow.

When orbiting the Earth, microwave radars and radiometers can observe a band of ocean surface hundreds of kilometers wide and thousands of kilometers long. If programmed correctly to observe sea surface roughness, they could potentially map an entire tsunami, said Godin.

The paper, “Variations in sea surface roughness induced by the 2004 Sumatra-Andaman tsunami,” by O. A. Godin, V. G. Irisov, R. R. Leben, B. D. Hamlington, and G. A. Wick, appears in Natural Hazards and Earth System Sciences, a journal of the European Geosciences Union.

Pengertian Kohesi dan Adhesi

1. Kohesi / Kohesif

Kohesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang sama jenisnya. Gaya ini menyebabkan antara zat yang satu dengan yang lain tidak dapat menempel karena molekulnya saling tolak menolak.

Contoh Kohesi :
- Air di atas daun talas
- Air raksa yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi kimia

2. Adhesi / Adhesif

Adhesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang berbeda jenisnya. Gaya ini menyebabkan antara zat yang satu dengan yang lain dapat menempel dengan baik karena molekulnya saling tarik menarik atau merekat.

Contoh Adhesive :
- Air di atas telapak tangan
- Susu tumpah di lantai




July 20, 2009—A new black spot on Jupiter was likely caused by an impact over the weekend that took astronomers by surprise.

Slightly smaller across than Earth, the temporary spot was caused by a recent but unobserved comet or asteroid impact, said Glenn Orton, an astronomer at NASA's Jet Propulsion Laboratory in California.

"It's very clear that this is an impact," Orton said.

First spotted by Australian amateur astronomer Anthony Wesley on July 19, the blemish appears as a dark gray blob on the gas giant's south pole. (The picture above appears upside down, and the very dark spot on the planet's equator is the shadow of Jupiter's moon Io.)

Astronomer Amy Simon-Miller, of NASA's Goddard Space Flight Center in Maryland, agreed that it must have been an impact, saying that the evidence "is not consistent with changes in weather patterns."

The bombardment that caused the spot would have been very similar to what happened in 1994, when fragments of the comet Shoemaker-Levy 9 slammed into Jupiter. (See a Hubble picture of comet debris approaching Jupiter.)

The impactor's size is still unknown, but it would have exploded like a bomb as it punched a hole through Jupiter's upper atmosphere, Simon-Miller said.

"If you could look edge-on at the planet exactly where it happened, you would have seen a fireball," she said. "What we're looking at now is not the hole, but burnt up debris raining back down onto the planet."

It's possible more impacts could follow in the next few days, and if so, this time astronomers will be ready to spot the actual explosions.

"We're going to be training all the big telescopes on it as soon as we can," Simon-Miller said.

—Ker Than
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |