19 September, 2009
Obama aja mengucapan Selamat Idul Fitri
"Idul Fitri adalah saat untuk merayakan berakhirnya masa 30 hari dan 30 malam yang penuh dengan ibadah. Namun, bahkan dalam saat yang berbahagia ini, umat Muslim tetap ingat pada mereka-mereka yang saat ini dilanda kemalangan, termasuk mereka yang menderita kemiskinan, kelaparan, konflik dan wabah penyakit," kata Obama seperti dikutip siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta Jumat.
Selama bulan ini, tambahnya, kaum Muslim mengumpulkan dan mendistribusikan zakat agar seluruh umat Muslim dapat ikut merayakan hari suci tersebut.
"Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya di Kairo, pemerintah yang saya pimpin terus berusaha agar umat Muslim dapat memenuhi kewajiban mereka untuk beramal, bukan saja pada bulan Ramadan, namun juga sepanjang tahun. Oleh karena itu pada hari yang suci ini, atas nama rakyat Amerika Serikat, kami ingin mengucapkan selamat pada umat Muslim di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Eid Mubarak," demikian Obama.
www.antarjatim.com
www.amiboyz.co.cc
Dari mana sih asal muasal halal bihalal
Mungkin sekarang handphone-handphone kita berbunyi sms terus sepanjang malam ini dengan isi dari sahabat kita dengan mengucapkan hari raya idul fitri dan memohon maaf atas segala kesalahannya. Seperti ada sebuah kekuatan dalam diri kita untuk memohon maaf kepada teman-teman kita yang mungkin sulit untuk dilakukan diwaktu lain waktu. Tradisi saling maaf-maafan yang sangat populer di Indonesia ini mungkin tidak dilakukan di negara lain.
Di Indonesia sendiri maaf-maafan mungkin lebih di kenal dengan budaya sungkem yang berasal dari jawa. sungkem dapat diartikan permohon maaf dengan penghormatan yang sangat tinggi kepada orang yang lebih tua, jadi tidak heran jika arus mudik datang maka kemacetan akan terjadi yang padahal pemerintah setiap tahunnya bekerja dengan baik untuk menaggulangi kemacetan itu.
Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?
Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).
maka dari ide itu pula seakan-akan para ulama jawa menformulasikan antara bulan Romadhon dan budaya sungkem milik jawa dengan nama Hala Bihalal
Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.
Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.
Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan.
http://www.wawasandigital.comhttp://www.amiboyz.co.cc
14 September, 2009
Praktikum IUT dibawah terik matahari
1. Pengukuran Sipat Datar, dimana Pengukuran sipat datar memanjang dan melintang.
2. Pengukuran Polygon
oke yang ada penjelasan sekilas tentang Pengukuran itu.
Sipat datar adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan beda tinggi antara dua tempat atau lebih di lapangan dengan cara membaca skala pada rambu vertikal yang tepat berhimpit pada posisi garis bidik horisontal.
gambar 2 Sipat datar bertujuan untuk menentukan selisih tinggi antara tempat-tempat yang sudah ditentukan pada muka bumi, dimana tempat tersebut dinyatakan di atas atau di bawah suatu bidang referensi
dalam pengukuran sipat datar kita mengunakan waterpass, dengan waterpass ini kita bisa mendapatkan jarak dan beda tinggi sebuah permukaan. ini adalah gambar dari waterpass
Sipat Datar Profil Memanjang
Profil memanjang digunakan untuk membuat trase jalan kereta api, jalan raya, saluran air, pipa air minum, riool. Dengan jarak dan beda tinggi titik-titik di permukaan bumi didapatkan irisan tegak yang dinamakan profil memanjang pada sumbu proyek. Di lapangan dipasang pancang-pancang dari kayu yang menyatakan sumbu proyek, dan pancang-pancang itu digunakan pada pengukuran penyipat datar yang memanjang untuk mendapatkan profil memanjang.
Penggambaran profil memanjang dengan menggunakan hasil ukuran dapat dilakukan sebagai berikut :
Tentukan dulu skala untuk jarak dan tinggi. Karena jarak jauh lebih panjang daripada beda tinggi, maka untuk jarak dan untuk tinggi selalu diambil skala yang tidak sama dan skala untuk jarak akan lebih kecil daripada skala untuk beda tinggi. Biasanya skala untuk jarak di ambil 1 : 1000 dan skala untuk tinggi di ambil 1 : 100.
Bila sekarang titik-titik yang telah dilukiskan dengan tingginya dihubungkan berturut-turut, maka didapatkan profil lapangan memanjang pada sumbu proyek. Dengan profil memanjang ini dapat diketahui beberapa material yang dibutuhkan untuk penimbunan untuk dapat bekerja secara ekonomis, maka banyaknya tanah yang digali sebaiknya harus sama dengan banyaknya tanah yang di timbunkan.
Sipat Datar Profil Melintang
Telah dijelaskan bahwa banyaknya tanah yang digali sedapat mungkin dibuat sama dengan banyaknya tanah yang diperlukan untuk menimbun. Untuk menghitung banyaknya tanah, baik untuk galian maupun untuk timbunan, profil memanjang belumlah cukup. Maka diperlukan lagi profil melintang yang dibuat tegak lurus sumbu proyek dan pada tempat-tempat penting. Jarak antara profil melintang pada garis proyek melengkung dibuat lebih kecil daripada garis proyek yang lurus. Profil melintang harus pula dibuat di titik permulaan dan titik akhir garis proyek melengkung.
Cara pengukuran profil melintang sama dengan cara pengukuran untuk profil memanjang, hanya jaraknya lebih pendek bila dibandingkan dengan jarak pada profil memanjang. Skala untuk jarak dan beda tinggi, karena jarak-jaraknya menjadi pendek, dapat dibuat sama, misalnya 1 : 100.

Gambar di atas merupakan gambar dari sipat datar profil melintang, hasil dari kerja keras dari kelompok 3 yaitu Agus, Dedi, Ami, Santi, dan Resti. hhehehe.
Pengukuran Titik Polygon Utama.
Pengukuran metode ini merupakan salah satu cara penyajian sebaran titik ikat di daerah pengukuran secaraa berurutan.
Maksud dan tujuan pengukuran polygon adalah untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam mencari koordinat titik-titik polygon.
Data-data tersebut adalah sebagai berikut :
a. Data sudu dalam (I) pada setiap titik dari polygon yang akan dicari koordinatnya (X1, Y1)
b. Data jarak atau sisi Sn jumlahnya = n - 1 (jarak horisontal) pada semua sisi polygon.
c. Data satu sisi azimuth pada sisi polygon atau beberapa azimuth pada beberapa sisi polygon jika merupakan pengukuran polygon terbuka. Azimuth akan diukur pada sisi awal dan akhir jika merupakan polygon terbuka terikat sempurna.
Pengukuran Titik Detail Polygon.
Tujuan utama dari pengukuran detail adalah untuk menggambarkan kembali sebagian permukaan bumi dengan segala perlengkapannya yang akhirnya berwujud peta. Berhubung tujuan pemakaian peta bermacam-macam, maka pengukuran detail pun menjadi selektif, hanya detail-detail tertentu yang diukur guna keperluan suatu macam peta.
Data yang perlu dicari dalam pengukuran detail ini adalah data sudut, jarak, dan beda tinggi. Pada pengukuran ini juga diperlukan sketsa situasi agar diketahui letak titik detail yang diambil sehingga memudahkan dalam penggambaran peta.

www.amiboyz.co.cc
11 September, 2009
Memories Exist Even When Forgotten, Study Suggests
ScienceDaily (Sep. 10, 2009) — A woman looks familiar, but you can't remember her name or where you met her. New research by UC Irvine neuroscientists suggests the memory exists – you simply can't retrieve it.
Using advanced brain imaging techniques, the scientists discovered that a person's brain activity while remembering an event is very similar to when it was first experienced, even if specifics can't be recalled.
"If the details are still there, hopefully we can find a way to access them," said Jeff Johnson, postdoctoral researcher at UCI's Center for the Neurobiology of Learning & Memory and lead author of the study, appearing Sept. 10 in the journal Neuron.
"By understanding how this works in young, healthy adults, we can potentially gain insight into situations where our memories fail more noticeably, such as when we get older," he said. "It also might shed light on the fate of vivid memories of traumatic events that we may want to forget."
In collaboration with scientists at Princeton University, Johnson and colleague Michael Rugg, CNLM director, used functional magnetic resonance imaging to study the brain activity of students.
Inside an fMRI scanner, the students were shown words and asked to perform various tasks: imagine how an artist would draw the object named by the word, think about how the object is used, or pronounce the word backward in their minds. The scanner captured images of their brain activity during these exercises.
About 20 minutes later, the students viewed the words a second time and were asked to remember any details linked to them. Again, brain activity was recorded.
Utilizing a mathematical method called pattern analysis, the scientists associated the different tasks with distinct patterns of brain activity. When a student had a strong recollection of a word from a particular task, the pattern was very similar to the one generated during the task. When recollection was weak or nonexistent, the pattern was not as prominent but still recognizable as belonging to that particular task.
"The pattern analyzer could accurately identify tasks based on the patterns generated, regardless of whether the subject remembered specific details," Johnson said. "This tells us the brain knew something about what had occurred, even though the subject was not aware of the information."
In addition to Johnson and Rugg, Susan McDuff and Kenneth Norman of Princeton worked on the study, funded by the National Institutes of Health.
10 September, 2009
Shrinking Bylot Island Glaciers Tell Story Of Climate Change
ScienceDaily (Sep. 9, 2009) — The U.S. Geological Survey has released the results of a long-term study of key glaciers in western North America, reporting this month that glacial shrinkage is rapid and accelerating and a result of climate change.
University of Illinois geologist William Shilts spent nearly two decades studying glaciers on Bylot Island, an uninhabited island about 300 miles southwest of Thule, Greenland. He, his students and other geologists who followed in his footsteps have chronicled the decline of several Bylot Island glaciers. Photos of the island from the 1940s to the present offer a vivid picture of the changing glaciers and the forces that shape their retreat.
“I started working in the late 1970s on Bylot Island, which is about the size of New Jersey,” said Shilts, the executive director of the Institute of Natural Resource Sustainability at Illinois. “Bylot Island is like a miniature North America. It has a very old crystalline rock core that’s covered with ice and glaciers, and it’s surrounded by younger rocks.”
“As time went on it became very evident that the glaciers on Bylot Island were, for the most part, retreating, shrinking, melting faster than ice could be produced,” he said. “For whatever reason, the summer melting was exceeding the winter snowfall.”
With a perspective spanning more than 4 billion years, geologists have a unique point of view on current climate changes. They know that ice ages and glacial retreats are common because these events leave indelible marks on the land.
To a geologist’s eye, the color of rock near a melting glacier, the pattern of scars on its surface or fissures at its edges, the shape of a mound of gravel left behind or the pattern of snow and ice on its surface speak volumes about the glacier’s origin, recent history and age.
Glaciers are perpetually moving, flowing frozen rivers, and like other rivers, they churn up dirt and rocks and carry them “downstream.” When a glacier retreats, the mud and rocks are often dumped at its edge, forming moraines. The moraines sometimes grow so large that they inhibit the advance of the glacier and cause the ice to thicken, like water filling a bathtub.
The surface of the rocks also tells a story. When a glacier melts, the newly exposed material becomes an inviting habitat for lichen and other organisms, which gradually darken the stone. Such growth can take 50 or 60 years to start, however, so bare rock inside the moraine signals that a glacier has retreated only within the last few decades. Shilts calls the light-colored moraine below the dark lichen-covered rock the glacier’s “bathtub ring.”
“1948 was the year that the first aerial photographs were taken of Bylot Island and most of northern Canada,” Shilts said. “On those photographs you can see that the glaciers were considerably advanced over what they are now. And any boulders that were involved with glacier activities in the 1940s look as fresh as if they were broken off their outcrops yesterday.
They have no lichen or any sort of growth on them. As soon as you go beyond the 1948 boundary, the boulders are covered with black lichen. You can’t even see the rock. And so it’s a very clear demarcation on the ground.”
Shilts photographed many of the same glaciers in the 1980s and 1990s, and other geologists have chronicled the changes up to the present. These photos show a steady and rapid decline in the extent of several glaciers: Stagnation Glacier, covered in a layer of rock and debris, has shrunk considerably since 1948.
Nearby Fountain Glacier seems more stable, but the outwash plain below it, a zone always coated in a thick layer of ice, even throughout the summer, was completely dry in the summer of 2008.
Aktineq Glacier has shrunk back about a kilometer since 1948, Shilts said. Most of the other glaciers on Bylot Island, and on nearby Baffin Island, also appear to be melting away.
A glacier that shrinks over a period of decades may seem like an overt sign of a warming climate, but other contributors to glacial retreat are less obviously tied to climate change. Warmer temperatures can bring on more frequent freeze-thaw cycles that open fissures in the rock walls above a glacier, dumping debris on the glacier’s surface that hastens melting by absorbing more of the sun’s heat.
A more precise way of timing glacial events involves radiocarbon dating the soil in embankments near glacial moraines. Shilts and his colleagues conducted such studies on Bylot Island, and found that an undisturbed sand bank near a glacial moraine was about 6,800 years old.
“That means at the very least that the glacier that is a couple of feet away from that sand bank has not gone across that sand bank in 6,800 years,” he said.
Another approach, called cosmogenic dating, indicated that the boulders just outside the 1948 moraine were even older. The technique, conducted by Shilts’ former graduate student, Shirley McCuaig, dated those boulders at 55,000 years, plus or minus 5,000 years.
That finding confirmed something that another student, Rod Klassen, had suggested in his PhD thesis at Illinois, Shilts said. “And that is that the glaciers that are now on Bylot Island were as far advanced in the 1940s as they have been in the last 55,000 years. And now they are retreating.”
“My interpretation of what I saw on Bylot Island is that we’re in another cycle of glacial retreat,” Shilts said. “Whether that cycle is primarily driven by human emissions of carbon dioxide in the atmosphere creating a warming trend, or whether it’s driven by natural cycles, which relate to our orbit around the sun, sunspot activity or various things in the earth’s atmosphere in general, I can’t say.”
“My personal opinion is that this is a combination of both factors,” Shilts said. “There’s a normal cycle here – we’re coming out of the ‘Little Ice Age,’ and have been for some time. At the same time, the Industrial Revolution has begun to load the atmosphere with carbon dioxide among other things. There’s a human effect, and there’s a natural effect, and sorting out those two is very difficult.”
Other geologists who have conducted research on Bylot Island include Tristan Irvine-Fynn, Rod Klassen, Shirley McCuaig, Brian Moorman, Pablo Wainstein, Ken Whitehead and Christian Zdanowicz.