06 Desember, 2009

Ibnu al-Haitham : Penemu Kamera Obscura

 

Masa paling indah yang dirasakan umat islam yaitu selarasnya antara ajaran agama dan kehidupan membawa para umatnya dapat menjadi orang yang hebat contohnya Ibnu al-Haitham, siapa sangka dialah orang pertama yang menciptakan kamera Obscura pada sekitar abad ke 10 nih artikelnya

SURAT kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ''Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.'' The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.
Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.
Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ''ruang gelap''. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.
"Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),'' ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz's perspective.
Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. "Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura," papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).
Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 - 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).
Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya - yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.
Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.
Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura
Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara ? Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.
Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.
Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.
Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.
Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen - begitu dunia Barat menyebutnya - juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.
Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika 'Bapak Optik' dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.
Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.
Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.
Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.
Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab al-Manazhir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin. she/desy susilawati/heri ruslan
Sumber : republika.co.id

Antara Diriku, Otak Kanan, dan Otak Kiri

 

Hari minggu ini cukup melelahkan dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. hari dimana yang paling tidak kusuka karena besoknya dah harus nguli lagi. hehee. oke kembali lagi ke hari minggu ini yang ternyata saya cukup mengaplikasikan antara pemikiran otak kanan dan otak kiri saya. Untuk pengembangan otak kanan, saya mencoba untuk memahami dan menuruti perintah-perintah yang di tuliskan dalam buku tentang pengembangan otak kanan dan mencoba untuk keluar dari kebiasaan kita selama ini yang lebih membanggakan kecerdasaan otak kiri atau memori. hal yang dilakukan adalah membiarkan otak kita yang diciptakan secara baik ini dapat membuat kita terasa nyaman dan tenang yang pada biasanya jika kita menggunkan otak kiri terkadang membuat kita menjadi lemah dan pusing bahkan stress. saya membaca buku itu pada saat matahari mulai muncul di pagi hari dan melakukan olah otak kiri saya pada malam ini yang tidak lain untuk mengitung momen-momen di setiap batang. eheh

05 Desember, 2009

Lyre, Burung perekam Suara

Saat pukul 4 sore, metro tv menyiarkan sebuah acara yang sangat menarik yaitu Earth from Above tayang edukasi yang bertemakan tentang pentingnya manusia untuk menjaga hutan. Dalam tayang itu menjelaskan bahwa hutan yang menjadi seperti tempat sirkulasi dari CO2 menjadi O2 sehingga keberadaan CO2 di bumi ini dapat dikontrol. Diawali dengan keadaan hutan tropis di Madagaskar berlanjut ke hutan tropis di Meksiko dan diakhiri dengan siulan burung Lyre sang perekam suara yang alami. Burung ini memiliki kemampuan untuk meniru suara di sekelilingnya yang. Dia menerima gelombang suara yang datang dan menyiulkannya kembali. hampir 20 bahkan lebih jenis suara yang bisa di siulkan . Suara kamera, alarm mobil, gergaji mesin pun dapat dia tiru.. ini adalah contoh dari burung Lyre ini.

www.amiboyz.co.cc

Kalo Engineer bicara hukum (forensic engineering)

 

logoKuliah umum hari ini kami mendapatkan materi tentang forensic engineering.

mungkin kita semua sering mendengar kata forensic itu dalam kedokteran yaitu melalukan analisa atau pembedahan . Namun jika dalam dunia engineering memiliki arti yang sedikit berbeda yaitu mengidentifikasi dari sebuah material, produk atau struktur. sebagai seorang forensic engineering, dalam kuliah tadi disebut beberapa hal seperti education, training, experience, dan skill yang memadai untuk menjadi seorang forensic engineer yang baik. Di negara Indonesia sendiri menurut pembicara pada kuliah umum hari ini (Bu Relly) masih kurang memanfaatkan seorang atau kelompok forensic engineering untuk ikut dalam mengidentifikasikan sebuah masalah, namun itu juga menjadi tantangan bagi para engineering Indonesia untuk bisa mengeluarkan sebuah analisa dalam hukum , sehingga hukum di Indonesia ini bisa tegak dalam keadilan dan kebenaran. Amin, semoga saja. jika ingin tahu lebih lanjut tentang forensic engineering ke NAFE

 tsu1976PhillCotabatoFailureeq-Mexico-08

www.amiboyz.co.cc

03 Desember, 2009

Kenapa harus teriak-teriak

Kenapa ya salah satu orang ada yang kalo saat di mengukapkan pendapatnya harus teriak-teriak ? biar ap biar semua orang bisa dengar suara lo ? bukankah lo tuh mencirikan orang yang selalu ingin didengarkan yang belom tentu lo mau dengerin pendapat orang.

dah tahu kita dalam sebuah tempat untuk bersama tapi lo ga mikir kalo suara lo yang gede bisa ngebuat polusi suara yang sangat amad menggangu . gw tahu mungkin aja lo tuh emang selalu bersuara keras buat suara lo didenger trus lo di bilang wah dia pinter ya.

Bukan kah kita hidup bersama jadi lebih baik saling menghormati hak-hak orang lain

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |