10 Desember, 2009
Bimbang
Goresan-goresan impian luluh bersama waktu
Menanti secercah sinar dibalik bayangan
Berharap datang tetesan kenikamatan
Dalam penderitaan.
Namun apa daya kemunafikan menyerang
Menawari kebohongan
Bersenjatakan nafsu
Berbekalan angan-angan
Saat jalan persimpangan datang kembali
Memberi harap dan cemas
Kuhanya diam dalam kebimbangan
berharap kudapat tempat kembali.
09 Desember, 2009
Belajar Dari Krisis Tahun 1998
1. Terlalu bebasnya aturan tentang perbankan, khususnya sejak di gulirkannya Paket Oktober 1988 (Pakto 88) dimana aturan ini memungkinkan langkah mendirikan bank begitu mudahnya, sehingga dalam waktu singkat, jumlah bank menjamur. Kerena menjamurnya bank-bank swasta membuat banyak pula hutang-hutang yang dilakukan pada banyak bank ini. Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani (manageable). Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Selain itu, hutang swasta tersebut banyak yang tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi, tetapi lebih mengandalkan koneksi politik, dan seakan didukung oleh persepsi bahwa negara akan ikut menanggung biaya apabila kelak terjadi kegagalan.
2. Bank dan sektor real kian terintegrasi di dalam jalinan kepemilikan seseorang atau sekelompok orang yang sama. Hal ini mungkin saja tidak berdampak terlalu negatif jika saja aturan dapat di tegakkan secara baik namun kenyataannya praktik-praktik bisnis dinaungi oleh suatu sistem politik tertutup yang otoriter dan korup. Maka, jika terjadi guncangan pada sendi-sendi politik otomatis bangunan usaha, termasuk perbankan, juga turut tidak stabil. hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi.
3. Dan yang populer dari kejadian tahun 1998 adalah perkembangan situasi politik telah makin menghangat akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri.
ANALISIS KONDISI PERBANKAN NASIONAL TAHUN 2009
Selama periode Februari-Juni 2008 laju pertumbuhan kredit bulanan tercatat sebesar hampir 4 persen, angka ini menurun menjadi hanya sekitar 2 persen pada periode Juli-Desember 2008.
Memasuki 2009, pertumbuhan kredit minus 2,1 persen. Turunnya tingkat pertumbuhan hampir bisa dipastikan juga akan turut mengerek naik jumlah kredit bermasalah (NPL).
Penyebab dari melemahnya pertumbuhan kredit adalah seretnya likuiditas. Satu hal yang antara lain diindikasikan dari berkurangnya lebih dari dua kali lipat ekses likuiditas perekonomian yang disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), fasilitas BI, dan fine tuning operation (FTO).
Beberapa pekan terakhir, likuiditas perekonomian memang sedikit tertolong oleh suntikan devisa dari negara-negara yang melakukan billateral swap agreement dengan Indonesia seperti Cina. Tambahan dana sebesar 12 miliar dolar AS juga rencananya akan dihasilkan bila komitmen ASEAN Plus 3 bisa segera direalisasikan. Berbagai suntikan devisa ini akan secara langsung mengurangi tekanan terhadap likuiditas domestik melalui mekanisme uang inti. Selain, suntikan dari luar, arus lalu lintas likuditas domestik juga agaknya banyak terbantu oleh pesta demokrasi Pemilu yang kini tengah hinggar bingar dirayakan.
Sayang, aliran likuiditas yang bertambah tidak serta merta bisa diterjemahkan dalam ekspansi kredit. Persoalannya, krisis global juga menyebabkan semakin akutnya segmentasi pasar perbankan domestik, yang menyebabkan suku bunga kredit komersial sulit turun (Baca: Deviasi BI Rate dan Suku Bunga Kredit).
Berbagai upaya terobosan yang diupayakan BI untuk mengatasi masalah ini, termasuk upaya penciptaan satu pooling fund, belum tanda-tanda menggembirakan. Bank masih saling enggan untuk meminjamkan dananya, karena profil risiko masing-masing yang belum sepenuhnya transparan. Solusi komprehensif segmentasi pasar perbankan ini agaknya harus menunggu sedikit lagi, hingga sah diundangkannya RUU Jaringan Pengaman Sistem Keuangan yang sampai saat ini masih berada di DPR.
Dengan berbagai masalah yang ada, tidak mengherankan bila laju pertumbuhan kredit sepnajang 2009 secara kumulatif bakal melambat di kisaran 15 persen persen. Begitu pula dengan perkiraan laju dana pihak ketiga yang hanya sebesar 11 persen.
Namun, sampai sejauh ini, perlambatan pertumbuhan kredit dan pemburukkan NPL tidak berdampak secara serius pada fundamental sistem perbankan domestik secara keseluruhan. Secara rata-rata, perbankan domestik masih memiliki rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio ––CAR) yang lebih dari cukup, sebesar 17 persen. Angka ini jauh di atas angka minimal sebesar 8 persen. Bantalan modal yang besar ini memungkinkan perbankan domestik untuk menyerap berbagai risiko yang mungkin timbul selama 2009. Pada awal 2009, tingkat NPL juga masih relatif terkendali di bawah 5 persen, meski sedikit meningkat dari angka 4 persen pada akhir 2008.
Fundamental perbankan yang baik ini merupakan modal yang sangat bernilai untuk mengarungi 2009. Tentu, pada tataran operasional perbankan, perlu ada upaya lebih untuk memperbaiki kinerja efisiensi ––yang saat ini masih tergolong cukup rendah dimana rasio BOPO masih sebesar 80an–– serta manajemen resiko dari masing-masing bank. Sebab dari pengalaman mutakhir yang ada, dalam kasus bank Indover dan Century, runtuhnya suatu bank kerap disebabkan oleh manajemen resiko yang amburadul bahkan kriminal.
Secara bersamaan, upaya perbaikan di skala mikro ini perlu dibarengi oleh upaya di tataran makro berupa konsolidasi perbankan. Konsolidasi yang kerap dilakukan melalui merger selain mengurangi keakutan problem segmentasi pasar perbankan, juga akan mengurangi beban pengawasan otoritas moneter.
Upaya lain pada tataran makro yang perlu terus dilanjutkan bahkan diperkuat adalah kebijakan tata kelola yang berhatihati (prudential regulation), termasuk dalam hal transaksi derivatif dan valuta asing yang sudah diterapkan. Kebijakan dari BI ini adalah salah satu yang telah menyelamatkan perbankan nasional hingga saat ini, sehingga perlu untuk diteruskan dan jangan justru dilonggarkan.
Di samping perbaikan manajemen resiko dan tata kelola bank, ada baiknya BI juga memberikan arahan sektoral bagi ekspansi kredit sebagai satu petunjuk operasional perbankan. Guidance ini tentunya harus bersifat spesifik dan berbeda pada masing-masing daerah. Pada titik ini, kantor-kantor BI yang tersebar di hampir seluruh pelosok nusantara harus difungsionalisasikan sebagai ujung tombang dalam memberikan arah sektoral yang bersifat lokal.
Eksistensi perbankan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya membaca perubahan-perubahan di lingkungan eksternalnya, baik pada lingkup nasional maupun internasional.Perbahan-perubahan yang penting untuk dicermati adalah :
* Perubahan struktur dan karakter perekonomian nasional sebagai akibat dari perubahan struktur insentif pasca-krisis.
* penerapan otonomi daerah.
* fenomena globalisasi dan regionalisasi.;..l
sumber:
http://cafe-ekonomi.blogspot.com/2009/05/artikel-perbankan-nasional.html
http://putracenter.wordpress.com/2009/02/10/4-penyebab-krisis-ekonomi-indonesia-tahun-1997-1998-apakah-akan-terulang-pada-krisis-ekonomi-sekarang/
Flock cocok bagi anda yang suka social networking
08 Desember, 2009
Menjual Bass Kesayangan
Aduh ternyata teknik sipil dapat melunturkan rasa ingin bermusik. Jadi yah daripada mubazhir tuh bass didiemin jadi lebih baik keberikan kepada yang lebih memerlukan dengan dia memberikan imbalan yang cocok . heheh
Goodbye my bass
7 Proyek Properti Besar di Jakarta
Pagi-pagi lagi searching ternyata dapat info yang lumayan seger bagi saya, kenapa seger karena ada nyinggung-nyinggung tentang proyek jadi yang rada nyambung ma teknik sipil lah. heheh. cekidot aj ya gan eh dah kaya anak-anak forum aja deh. Mari liat-liat dan bagus juga buat bahan diskusi.
1.UI Station 1 and UI Station 2, University Of Indonesia
7 Proyek Properti Besar di Jakarta
Jakarta Akan menjadi Kota Megapolitan yang bener2 luar biasa jika Proyek2 besar 2009 ini akan berjalan dengan mulus dan lancar. Mari kita lihat satu persatu :
1.UI Station 1 and UI Station 2, University Of Indonesia
Luas Area: 70.400 meter persegi
Gross Floor Area
3.250 meter persegi (UI Stasiun 1)
3.250 meter persegi (UI Station 2)
Tinggi Bangunan(meter) : 14
Tinggi Bangunan(lantai) : 2
Mulai Konstruksi : 2009
Penyelesaian dijadwalkan Tahun: 2010
Universitas Indonesia atau Universitas Indonesia (UI) menjaga 100 hektar hutan di dalam situs 309-hektar daerah. Dengan enam danau tersebar di daerah kampus, ia menawarkan lingkungan hutan yang harmonis untuk sekolah. Stasiun UI 1 dan Station 2 adalah eksternal dan internal sarana transportasi ke dan dari kampus.
Stasiun dirancang untuk memadukan dan berhubungan dengan lingkungannya, menghubungkan untuk pejalan kaki dan sepeda trek untuk menyediakan akses yang mudah. perlu, trotoar baru dan trek bersepeda akan dibangun untuk lebih meningkatkan aksesibilitas. Jembatan yang menghubungkan kampus UI ke Stasiun 2 akan menjadi gerbang utama baru bagi pengunjung.
Desain stasiun baru terinspirasi oleh konsep gerakan. Reboisasi kereta api juga telah dilakukan sepanjang sisi rel kereta api, sehingga pepohonan akan bekerja sebagai penghalang atau pemisah antara daerah UI dan Margonda.
2.Taman Ismail Marzuki (TIM)
Luas Area: 7.2 hektar
Gross Floor Area: 18.720 meter persegi
Tinggi Bangunan (meter): 27
Tinggi Bangunan (lantai): 5
Mulai Konstruksi : Maret 2009
Penyelesaian dijadwalkan : Maret 2010
Taman Ismail Marzuki adalah tempat tua yang didedikasikan untuk seni. Pemerintah dan Lembaga Arsitektur Indonesia DKI Jakarta menyerukan agar kompetisi desain untuk menghidupkan kembali dan mengubahnya menjadi ruang publik yang bersemangat dan hijau untuk kota reservoir. Andra Matin tim datang dengan memenangkan penghargaan desain.
3. REGATTA The Icon (RTI), a Nautical Theme Superblock in Jakarta
Setiap negara memiliki ikon gedung: Menara Eiffel di Paris, Pissa Menara Miring di Italia, Piramida di Mesir, dan Patung Liberty di Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Ikon berikutnya Indonesia akan Regatta, mega proyek kolaborasi antara PT Dharmala Intiland dan PT Global Ekabuana.
Dibuat oleh arsitek WS Atkins yang juga merancang Burj Al Arab di Dubai, Regatta The Icon terdiri dari 10 menara apartemen, hotel, Aqua Park dan Service Apartment di tanah dari 11 hektar. Dengan pemandangan menghadap ke Laut Jawa, perumahan eksklusif tepi pantai Regatta menawarkan konsep hidup.
Kata "Regatta" berasal dari jenis kapal yang digunakan untuk balap.
Manager Proyek BKMB, Aryadi Limansagita mengatakan bahwa pembangunan akan selesai pada November 2009.
4. Area 24
Luas Area: 24.770 meter persegi
Gross Floor Area: 140.000 meter persegi
Tinggi Bangunan (meter): 130
Tinggi Bangunan (lantai): 30 (kantor); 28 (apartemen)
Mulai Kontruksi: 2009
Penyelesaian dijadwalkan: 2011
Area 24 serba guna kompleks terletak berdekatan dengan persimpangan bisnis dan kegiatan komersial, di sepanjang garis perifer Jakarta Pusat (Pancoran distrik) dan distrik pemukiman komersial di Jakarta Selatan (Kalibata distrik).
Kompleks perumahan terdiri dari 558 unit, 49.396 meter persegi ruang kantor dan 7.316 meter persegi kegiatan komersial di lantai dasar. Setelah kebutuhan untuk jelas mendefinisikan domain publik dan swasta, dua bangunan apartemen telah bergeser ke belakang, sementara menara kantor di depan.
Kantor Menara ini terdiri dari lantai berbentuk elips piring untuk memaksimalkan tampilan dan sekitarnya gerbang putih melambangkan bingkai untuk pintu gerbang antara keduanya.
5. The Senayan Archipelago (TSA)
direncanakan pada sebidang tanah kosong di sebelah Plaza Senayan.
Didasarkan pada desain dan skala gambar yang disediakan, menara utama sekitar 200m akan tinggi. Arsiteknya adalah Urbane.
6. Indonesia Movieland – The Hollywood of Indonesia
Indonesia Movieland adalah PT Jababeka visi masa depan bagi Indonesia's TV broadcast dan industri film. PT Jababeka Capitalising pada warisan perusahaan menjadi pionir di sektor industri sejak 1989, kami berusaha untuk memberikan kontribusi kepada pembangunan dan pengembangan sektor industri kreatif Indonesia.
Indonesia Movieland dirancang untuk menjadi "the 1st one stop siaran TV dan pusat industri film di Indonesia". Ditampung dalam 36 hektar tanah di Kota Jababeka, akan memberikan fasilitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk membawa siaran TV di Indonesia dan industri film ketinggian yang lebih besar.
7. JAKARTA TOWER
Jakarta Tower (588m) ketika Dibangun pada tahun 2009 akan menjadi Menara yang berdiri bebas tertinggi di dunia melebihi CN Tower (553m). Desain yang menang ini diciptakan oleh Murphi / Iohn dari Amerika Serikat. Namun, karena rancangan itu terlalu mahal untuk mengembangkan, pemerintah memilih runner-up desain oleh Cina Timur Desain Arsitektur & Research Institute (ECADI), yang menciptakan Oriental Pearl Tower di China.
Left to right: KL Tower, Shanghai Pearl Oriental Tower, Toronto’s CN Tower and Jakarta Tower