12 Mei, 2009

Pergerakan Gunung

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
Sumber : www.keajaibanalquran.com

Laba-laba: Sang Insinyur Ahli

HARUN YAHYA

Setiap orang telah menjumpai makhluk mungil yang disebut laba-laba berkali-kali dalam hidupnya, baik di rumah, di pedesaan, atau di kebun. Tapi, makhluk kecil ini hanya menarik perhatian serius segelintir orang saja, padahal ia adalah salah satu wujud kesempurnaan ciptaan Allah. Kita perlu mengamati laba-laba ini sedikit lebih dekat untuk melihat kesempurnaan ini.
Benang yang Lebih Kuat dari Baja

Yang pertama kali terlintas dalam benak seseorang ketika berpikir tentang laba-laba adalah jaringnya. Ia merupakan keajaiban desain yang memiliki rancangan tersendiri, beserta perhitungan teknik yang menyertainya. Jika kita memperbesar laba-laba menjadi seukuran manusia, jaring yang dianyamnya akan memiliki tinggi sekitar seratus lima puluh meter. Ini sama tingginya dengan gedung pencakar langit berlantai lima puluh.

Andaikan laba-laba sedemikian besar sehingga mampu membuat jaring dengan lebar lima puluh meter, maka jaring ini akan mampu menghentikan pesawat jumbo jet. Jika demikian, bagaimana laba-laba mampu membuat jaring dengan sifat ini? Agar dapat melakukan hal ini, ia pertama kali harus menggambar rancangannya, persis seperti seorang arsitek. Sebab, struktur arsitektural dengan ukuran dan kekuatan seperti ini, mustahil dilakukan tanpa sebuah perancangan. Setelah rancangan dipersiapkan, laba-laba perlu menghitung seberapa besar beban-beban yang akan menempati posisi-posisi tertentu pada jaring, persis layaknya insinyur konstruksi. Jika tidak, jaring ini pasti akan runtuh.

Jika seseorang mengamati bagaimana laba-laba membangun jaringnya, akan ia temukan sebuah keajaiban yang nyata. Pertama-tama, laba-laba melempar benang yang dipintalnya ke udara, lalu aliran udara ini membawanya ke tempat tertentu di mana ia menempel. Lalu pekerjaan konstruksi dimulai. Perlu satu jam atau lebih untuk menganyam sebuah jaring.

Mulanya, laba-laba menarik benang jenis kuat dan tegang dari titik pusat ke arah luar guna mempersiapkan kerangka jaringnya. Ia lalu menggunakan benang jenis kendor dan lengket untuk membuat lingkaran dari arah luar ke dalam. Dan kini perangkap itu telah siap.

Benang yang digunakan laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. Benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh ribu kilogram per meter persegi. Jika seutas tali berdiameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat seratus lima puluh mobil.

Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuatan jaket anti peluru. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas, tapi lebih kuat dari baja, dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia.
Baja termasuk material paling kuat yang tersedia bagi manusia yang diproduksi dengan sarana industri berat, menggunakan besi, dan dalam tungku bertemperatur ribuan derajat. Ia didesain khusus agar berdaya tahan tinggi, dan digunakan pada konstruksi lebar, bangunan tinggi, dan jembatan. Laba-laba menghasilkan material yang lima kali lebih kuat dari baja, padahal ia tak memiliki tungku pembakaran dan teknologi apapun. Ia adalah makhluk mungil yang tak mampu berpikir. Sungguh suatu keajaiban bahwa makhluk kecil ini mampu menghasilkan benang yang lebih kokoh dari baja, dan menggunakannya untuk membuat bangunan dengan cara yang sama seperti para arsitek dan insinyur.
Dinopsis: Sang Ahli Pembuat Perangkap
Orang umumnya berpikir bahwa laba-laba adalah makhluk yang menggunakan jaring untuk menangkap mangsa. Namun, spesies yang disebut Dinopis ini tidak menunggu mangsanya terperangkap dalam jaring, tapi ia membuat perangkap bergerak. Ia membuat benang khusus dengan membuat dua ratus gulungan per menitnya. Ia lalu merangkaikan benang-benang ini dengan mengikuti suatu pola yang cerdas. Dengan cara ini, sebuah perangkap mematikan pun kini telah siap.
Ia menunggu di tempat yang sering dilalui serangga untuk menyergapnya. Matanya yang tajam mampu melihat gerakan paling lemah sekalipun. Ia lalu membungkus mangsanya dalam jerat khusus. Laba-laba menangkap lebih dari satu mangsa dalam semalam, dan menganyam jaring yang berbeda untuk setiap mangsa. Jaring ini sungguh merupakan keajaiban desain. Mangsa yang tertangkap tidak berkesempatan untuk lolos.
Laba-laba Dinopsis yang baru lahir telah mampu menganyam jaring mungil. Bayi laba-laba ini sudah menjadi insinyur semenjak ia lahir ke dunia. Kehadiran sejumlah laba-laba muda di tempat sempit dapat menimbulkan sedikit masalah, namun pada akhirnya, segalanya mulai membaik. Bayi laba-laba ini akan segera meninggalkan induk mereka untuk membangun sarang mereka sendiri.
Bolas: Sang Ahli Kimia
Metode berburu Bolas adalah satu lagi keajaiban penciptaan. Laba-laba ini menggunakan metode yang unik untuk menarik perhatian mangsanya, yakni ngengat jantan. Ia pun membuat benang yang lebih kuat dari baja dalam tubuhnya. Benang ini terbungkus oleh butiran-butiran lengket.
Ia mengulurkan benangnya dari sebuah pohon layaknya tangkai pancing, melemparkan tali pancing lalu menunggu dengan sabar, persis seperti pemancing. Laba-laba ini memiliki tipuan cerdik untuk menarik perhatian mangsanya. Ngengat betina mengeluarkan hormon feromon untuk menarik ngengat jantan kepadanya. Laba-laba meniru memproduksi aroma ini dan meletakkannya di bagian ujung perangkap.
Ngengat jantan tergoda mendekati perangkap tersebut. Ketika ngengat mendekat, laba-laba segera menggerakkan benang layaknya sebuah jerat. Dengan rangcangan perangkap ini, ia berhasil menangkap mangsanya.
Feromon memiliki formula kimia yang khas, dan hanya ditemukan pada ngengat betina. Kita harus melewati serangkaian tahapan percobaan dalam laboratorium kimia modern jika ingin membuat bahan kimia yang sama.
Jika kita beranggapan bahwa laba-laba menggunakan kecerdasannya sendiri untuk membuat hormon ini, maka ia harus mengikuti tahapan yang sama. Pertama, ia harus mendapatkan ngengat betina dan belajar bagaimana sang betina ini menarik perhatian ngengat jantan. Lalu ia harus mengambil sampel feromon dari ngengat betina. Ia harus mempelajarinya, dan melakukan berbagai uji laboratorium terhadap formula kimia yang ia temukan. Kemudian ia harus melekatkan zat kimia yang dibuatnya pada ujung tali jeratnya. Namun, laba-laba mungil ini tidak memiliki kecerdasan untuk melakukan pekerjaan seperti ini, apalagi keahlian dan laboratorium kimia.
Jadi, bagaimana laba-laba ini mampu meniru membuat feromon, layaknya seorang ahli kimia? Bagaimana ia berpikir untuk menempelkannya diujung benangnya? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantarkan kita pada kebenaran yang nyata. Zat kimia feromon, ngengat betina yang memproduksinya dan laba-laba yang menggunakannya untuk berburu, kesemuanya diciptakan oleh Allah. Contoh ini, sekali lagi menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah, Penguasa seluruh alam, dan semua makhluk hidup di dalamnya. Laba-laba muda Bolas telah mampu membuat tali jeratnya yang pertama kali. Laba-laba ini bahkan lebih kecil dari ujung jari Anda, dan jeratnya lebih kecil dari kepala jarum.
Trapdoor : pemangsa
Satu spesies lain yang menggunakan teknik sangat cerdas untuk menangkap mangsanya adalah Trapdoor. Berbeda dengan laba-laba lain yang menggunakan jaring, spesies ini menyerang dari dalam tanah. Mula-mula ia menggali liang dalam tanah, kemudian membuat penutup melingkar untuk sarangnya dengan menggunakan benang dan tanah. Ia menempelkan salah satu tepi penutup ini ke tanah seperti engsel. Ia merentangkan benang-benang ke arah luar dari sarangnya, lalu menyamarkan benang dan pintu masuk ke sarang dengan tanah atau dedaunan. Sistem ini menjadikannya mampu merasakan getaran paling lemah di luar sarangnya, dan langsung menyergap sumber getaran tersebut.
Perangkap yang telah selesai dibuat, dan telah siap digunakan, sama sekali tersamarkan. Dengan demikian, serangga yang mendekatinya tidak merasa curiga, hingga akhirnya ia menjadi mangsa bagi laba-laba. Tapi, bagaimana laba-laba yang tak mampu berpikir dan bernalar, memiliki ide untuk membuat perangkap, dan kemudian menempatkan sensor sensitif di bagian luarnya. Siapakah yang mengajarinya menyembunyikan sarang dengan menyamarkannya seperti bunga di atas tanah? Dan yang lebih menarik lagi adalah kenyataan bahwa setiap laba-laba yang lahir mengetahui teknik berburu dari jenisnya.
Tak diragukan lagi, ini adalah bukti bahwa laba-laba diberi ilham agar dapat membuat jaring dan membangun perangkap. Dialah Allah, Tuhan Seluruh Alam, yang menciptakan makhluk-makhluk ini dengan perilaku mereka yang mengagumkan, dan mengilhami mereka tentang apa yang mereka kerjakan.

11 Mei, 2009

Has science explained life after death?


Apakah Sains dapat menjelaskan keadaan setelah mati?
In 1991, Atlanta, Ga. resident Pam Reynolds had a near-death experience (NDE). Reynolds underwent surgery for a brain aneurysm, and the procedure required doctors to drain all the blood from her brain. Reynolds was kept literally brain-dead by the surgical team for a full 45 minutes. Despite being clinically dead, when Reynolds was resuscitated, she described some amazing things. She recounted experiences she had while dead -- like interacting with deceased relatives. Even more amazing is that Reynolds was able to describe aspects of the surgical procedure, down to the bone saw that was used to remove part of her skull [source: Parker].
What's remarkable (although not unique) about Reynolds' experience is that it is the combination of an NDE and an out-of-body-experience (OBE). HowStuffWorks has braved this territory on the edge of reality, explaining how near-death experiences work and how a person can have an out-of-body experience. Science, too, has made its own headway toward explaining these weird phenomena. Two studies on the separate aspects of Reynolds' experience were conducted in 2007. Each seems to explain how a person can have an OBE or a NDE, but do they hold up in explaining experiences like Reynolds'? ­­As many as 18 percent of people brought back from death after a heart attack said they'd had a NDE [source: Time]. While many religious adherents might not be surprised by these accounts, the idea that human consciousness and the body exist distinctly from each other flies in the face of science. A brain-dead person should not be able to form new memories -- he shouldn't have any consciousness at all, really. So how can anything but a metaphysical explanation cover NDEs?

A study from the University of Kentucky has quickly gained ground among scientists as possibly the best explanation for NDEs. Researchers there theorize that the mysterious phenomenon is really an instance of the sleep disorder rapid eye movement (REM) intrusion. In this disorder, a person's mind can wake up before his body, and hallucinations and the feeling of being physically detached from his body can occur.

The Kentucky researchers believe that NDEs are actually REM intrusions triggered in the brain by traumatic events like cardiac arrest. If this is true, then this means the experiences of some people following near-death are confusion from suddenly and unexpectedly entering a dream-like state.

This theory helps explain what has always been a tantalizing aspect of the mystery of NDEs: how people can experience sights and sounds after confirmed brain death. The area where REM intrusion is triggered is found in the brain stem -- the region that controls the most basic functions of the body -- and it can operate virtually independent from the higher brain. So even after the higher regions of the brain are dead, the brain stem can conceivably continue to function, and REM intrusion could still occur [source: BBC].

This sounds like a good explanation for NDEs, but what about OBEs? Are they the same thing? Read the next page to discover the distinctions between near-death and out-of-body experiences.

Sumatra Earthquake Three Times Larger Than Originally Thought

ScienceDaily (Feb. 12, 2005) — EVANSTON, Ill. --- Northwestern University seismologists have determined that the Dec. 26 Sumatra earthquake that set off a deadly tsunami throughout the Indian Ocean was three times larger than originally thought, making it the second largest earthquake ever instrumentally recorded and explaining why the tsunami was so destructive.

By analyzing seismograms from the earthquake, Seth Stein and Emile Okal, both professors of geological sciences in Northwestern's Weinberg College of Arts and Sciences, calculated that the earthquake's magnitude measured 9.3, not 9.0, and thus was three times larger. These results have implications for why Sri Lanka suffered such a great impact and also indicate that the chances of similar large tsumanis occurring in the same area are reduced.
By analyzing seismograms from the earthquake, Seth Stein and Emile Okal, both professors of geological sciences in Northwestern's Weinberg College of Arts and Sciences, calculated that the earthquake's magnitude measured 9.3, not 9.0, and thus was three times larger. These results have implications for why Sri Lanka suffered such a great impact and also indicate that the chances of similar large tsumanis occurring in the same area are reduced.

"The rupture zone was much larger than previously thought," said Stein. "The initial calculations that it was a 9.0 earthquake did not take into account what we call slow slip, where the fault, delineated by aftershocks, shifted more slowly. The additional energy released by slow slip along the 1,200-kilometer long fault played a key role in generating the devastating tsunami."

The large tsunami amplitudes that occurred in Sri Lanka and India, said tsunami expert Okal, result from rupture on the northern, north-trending segment of the fault -- the area of slow slip -- because tsunami amplitudes are largest perpendicular to the fault.

Because the entire rupture zone slipped (both fast and slow slip fault areas), strain accumulated from subduction of the Indian plate beneath the Burma microplate has been released, leaving no immediate danger of a comparable ocean-wide tsunami being generated on this segment of the plate boundary. However, the danger of a local tsunami due to a powerful aftershock or a large tsunami resulting from a great earthquake on segments to the south remains.

The analysis technique used by Stein and Okal to extract these data from the earth's longest period vibrations (normal modes) relied on results developed by them and colleague Robert Geller (now at the University of Tokyo) in their graduate studies almost 30 years ago. However, because such gigantic earthquakes are rare, these methods had been essentially unused until records of the Sumatra earthquake on modern seismometers became available.

The largest earthquake ever recorded, which measured 9.5, was in Chile on May 22, 1960.

How Floods Work

by Tom Harris

Air merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Dengan air kita dapat minum, mandi atau bahkan u
ntuk masak makanan. Tapi jika dapat kuantitas sangat besar dapat mengulingkan mobil, merobohkan rumah dan bahkan dapat membunuh manusia.




Flooding has claimed millions of lives in the last hundred years alone, more than any other weather phenomenon. Hurricane Katrina in New Orleans and the 2008 cyclone that struck Myanmar are recent examples of the widespread devastation that flooding can incur.

In this article, we'll find out what makes water change character so rapidly and see what happens when it does. We'll explore the negative impact of floods as well as some of the benefits. We'll also examine how human construction can contain flooding or, in some cases, cause it.

Water, Water Everywhere

To understand how floods work, you have to know something about how water behaves on our planet. The total amount of water on Earth has remained fairly constant for millions of years (though its distribution has varied considerably in that time). Every day, a very small amount of water is lost high in the atmosphere, where intense ultraviolent rays can break a water molecule apart, but new water is also emitted from the inner part of the Earth, by volcanic activity. The amount of water that is created and the amount that is lost are pretty much equal.

At any one time, this volume of water is in many different forms. It can be liquid, as in oceans, rivers and rain; solid, as in the glaciers of the North and South Poles; or gaseous, as in the invisible water vapor in the air. Water changes from state to state as it is moved around the planet by wind currents. Wind currents are generated by the heating activity of the sun. The sun shines more on the area around Earth's equator than it does on areas farther north and south, causing a heat discrepancy over the surface of the globe. In warmer regions, hot air rises up into the atmosphere, pulling cooler air into the vacated space. In cooler regions, cold air sinks, pulling warmer air into the vacated space. The rotation of the Earth breaks this cycle up, so there are several, smaller air-current cycles all along the globe.

Driven by these air-current cycles, Earth's water supply moves in a cycle of its own. When the sun heats the oceans, liquid water from the ocean's surface evaporates into water vapor in the air. The sun heats this air (water vapor and all) so that it rises through the atmosphere and is carried along by wind currents. As this water vapor rises, it cools down again, condensing into droplets of liquid water (or crystals of solid ice). Collections of these droplets are called clouds. If a cloud moves into a cooler environment, more water may condense onto these droplets. If enough water accumulates in this way, the droplets become heavy enough that they fall through the air as precipitation (rain, snow, sleet or hail). Some of this water collects in large, underground reservoirs, but most of it forms rivers and streams that flow into the oceans, bringing the water back to its starting point.



Overall, wind currents in the atmosphere are fairly consistent. At any particular time of year, currents tend to move in a certain way across the globe. Consequently, specific locations generally experience the same sort of weather conditions year to year. But on a day-to-day basis, the weather is not so predictable. Wind currents and precipitation are affected by many factors, chiefly geography and neighboring weather conditions. A huge number of factors combine in an infinite variety of ways, producing all sorts of weather. Occasionally, these factors interact in such a way that an atypical volume of liquid water collects in one area. For example, conditions occasionally cause the formation of a hurricane, which dumps a large quantity of rain wherever it goes. If a hurricane lingers over a region, or multiple hurricanes happen to move through the area, the land receives much more precipitation than normal.

Since waterways are formed slowly over time, their size is proportionate to the amount of water that normally accumulates in that area. When there is suddenly a much greater volume of water, the normal waterways overflow, and the water spreads out over the surrounding land. At its most basic level, this is what a flood is -- an anomalous accumulation of water in an area of land.

A series of storms bringing massive amounts of rain is the most common cause of flooding, but there are others. In the next section, we'll look at some of the ways floods start, as well as some of the factors that determine their magnitude.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |