18 Mei, 2009

Internet ke Interkoloni

HARUN YAHYA

Pemrogram komputer menggunakan lebah madu sebagai rujukan

Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.

Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.

Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.

Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.

Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini. [penjelasan lebih lanjut tentang tarian lebah, silakan baca: http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyingkap003.htm]

Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)

Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.

Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."

Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.

Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)

info@harunyahya.com

Dietary Fats Trigger Long-term Memory Formation

Makanan yang dapat menggemukkan dapat menambah lamanya suatu inggatan,wah kabar gembira nih buat para pencinta dessert. =]

ScienceDaily (May 3, 2009) — Having strong memories of that rich, delicious dessert you ate last night? If so, you shouldn't feel like a glutton. It's only natural.

UC Irvine researchers have found that eating fat-rich foods triggers the formation of long-term memories of that activity. The study adds to their recent work linking dietary fats to appetite control and may herald new approaches for treating obesity and other eating disorders.

Study results appear this week in the early online edition of the Proceedings of the National Academy of Sciences.

Daniele Piomelli, the Louise Turner Arnold Chair in Neurosciences, teamed with UCI's James McGaugh, one of the world's leading learning and memory researchers, to examine how dietary fats facilitate memory retention.

Piomelli's previous studies identified how oleic acids from fats are transformed into a compound called oleoylethanolamide (OEA) in the upper region of the small intestine. OEA sends hunger-curbing messages to the brain to increase feelings of fullness. In elevated levels, OEA can reduce appetite, produce weight loss and lower blood cholesterol and triglyceride levels.

Piomelli and McGaugh discovered that OEA also causes memory consolidation, the process by which superficial, short-term memories are transformed into meaningful, long-term ones. It does this, Piomelli said, by activating memory-enhancing signals in the amygdala, part of the brain involved in the consolidation of memories of emotional events.

The researchers found that administering OEA to rodents improved memory retention in two different tests. When cell receptors activated by OEA were blocked, memory retention effects decreased.

"OEA is part of the molecular glue that makes memories stick," Piomelli said. "By helping mammals remember where and when they have eaten a fatty meal, OEA's memory-enhancing activity seems to have been an important evolutionary tool for early humans and other mammals."

Dietary fats are important for overall health, helping with the absorption of vitamins and the protection of vital organs. While the human diet is now rich in fats, this was not the case for early humans. In fact, fat-rich foods in nature are quite rare.

"Remembering the location and context of a fatty meal was probably an important survival mechanism for early humans," Piomelli said. "It makes sense that mammals have this capability."

Today, he noted, such memory enhancement may not be so beneficial. While OEA contributes to feelings of fullness after a meal, it could also engender long-term cravings for fatty foods that, when eaten in excess, can cause obesity.

Currently, Piomelli said, drugs that mimic OEA are in clinical trials for triglyceride control. He is interested in learning whether they could improve consolidation in people with memory problems.

Patrizia Campolongo, Jin Fu, Giuseppe Astarita and Benno Roozendaal of UCI and Viviana Trezza and Vincenzo Cuomo of the University of Rome participated in the study, which was supported by grants from the National Institutes of Health.

Journal reference:
Patrizia Campolongo, Benno Roozendaal, Viviana Trezza, Vincenzo Cuomo, Giuseppe Astarita, Jin Fu, James L. McGaugh, and Daniele Piomelli. Fat-induced satiety factor oleoylethanolamide enhances memory consolidation. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2009; DOI: 10.1073/pnas.0903038106
Adapted from materials provided by University of California - Irvine.

14 Mei, 2009

Pengukuran untuk Pembuatan Peta

Tulisan saya kali ini saya tulis untuk persiapan mata kuliah Ilmu Ukur Tanah. lagi jalan-jalan ke google trus ketemu artikel bagus dan bagus juga buat sharing

Pengukuran untuk pembuatan peta juga biasa disebut pengukuran topografi, atau pengukuran situasi, atau pengukuran detil, dilakukan untuk dapat menggambarkan unsur-unsur: alam, buatan manusia dan bentuk permukaan tanah dengan sistem dan cara tertentu. Di antara beberapa cara yang dibahas berikut adalah cara offset dan tachymetry.

Pengukuran Pembuatan Peta Cara Offset

Pengukuran untuk pembuatan peta cara offset menggunakan alat utama pita ukur, sehingga cara ini juga biasa disebut cara rantai (chain surveying). Alat bantu lainnya adalah: (1) alat pembuat sudut siku cermin sudut dan prisma, (2). jalon, dan (3) pen ukur.

Dari jenis peralatan yang digunakan ini, cara offset biasa digunakan untuk daerah yang relatif datar dan tidak luas, sehingga kerangka dasar untuk pemetaanya-pun juga dibuat dengan cara offset. Peta yang diperoleh dengan cara offset tidak akan menyajikan informasi ketinggian rupa bumi yang dipetakan.

Cara pengukuran titik detil dengan cara offset ada tiga cara: (1) Cara siku-siku (cara garis tegak lurus ), (2) Cara mengikat (cara interpolasi), dan (3) Cara gabungan keduanya.

Dalam bahasan berikut lebih mengutamakan pembahasan teknik cara offset, sedangkan hal teknik pembuatan garis tegak lurus, perpanjangan garis dan penggunaan prisma yang sudah diuraikan di bab sebelumnya tidak dibahas lagi.


Kerangka Dasar Cara Offset


Kerangka dasar pemetaan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga setiap garis ukur yang terbentuk dapat digunakan untuk mengukur titik detil sebanyak mungkin. Garis ukur adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik kerangka dasar. Jadi garis ukur berfungsi sebagai "garis dasar" untuk pengikatan ukuran offset.
Kerangka dasar cara offset cara siku-siku:

Setiap garis ukur dibuat saling tegak lurus.

Gambar 3.1: Kerangka dasar cara offset cara siku-siku.

Titik-titik A, B, C dan D adalah titik kerangka dasar yang telah dipasang.

Andai akan digunakan garis AC sebagai garis ukur, maka dibuat garis ukur BB' dan DD' tegak lurus garis ukur AC. Ukur jarak AC, AD', D'D, D'B', B'B dan B'C. Sebagai kontrol, bila memungkinkan, diukur pula jarak AD, DC, CB dan BA.

Kerangka dasar cara offset cara mengikat:

Setiap garis ukur diikatkan pada salah satu garis ukur.

Gambar 3.2: Kerangka dasar cara offset cara mengikat

Titik-titik A, B, C dan D adalah titik kerangka dasar yang telah dipasang.

Bila akan digunakan garis AC sebagai garis ukur, maka ditentukan sembarang titik-titik D', D", B' dan B" pada garis ukur AC. Ukur jarak AC, AD', D'D", D'B', B'B", B"C, D'D, D"D, B'B dan B"B. Sebagai kontrol, bila memungkinkan, diukur pula jarak AD, DC, CB dan BA.

Kerangka dasar cara offset cara segitiga:

Titik A, B, C dan D adalah titik kerangka dasar yang telah dipasang seperti ditunjukkan pada Gambar 3.2. Ukur jarak-jarak AB, BC, CD, DA dan AC yang merupakan sisi-sisi segitiga ABC dan ADC sebagai garis ukur.

Karena garis ukur dibuat dengan membentuk segitiga-segitiga, maka cara ini juga disebut cara trilaterasi.

3.1.2 Pengukuran Detil Cara Offset

Pengukuran detil cara offset cara ciku-siku:

Setiap titik detil diproyeksikan siku-siku terhadap garis ukur dan diukur jaraknya.

Gambar 3.3: Pengukuran detil cara offset cara siku-siku.

A dan B adalah titik-titik kerangka dasar sehingga gari AB adalah garis ukur. Titik-titik a, b, c dan d dadalah tittik-titik detil dan titik-titik a', b', c' dan d' adalah proyeksi titik a, b, c dan d ke garis ukur AB.

Pengukuran detil cara offset cara mengikat

Setiap titik detil diikatkan dengan garis lurus ke garis ukur.

Gambar 3.4: Pengukuran detil cara offset cara mengikat.

A dan B adalah titik-titik kerangka dasar, sehingga gari AB adalah garis ukur. Titik-titik a, b, c adalah tittik-titik detil dan titik-titik a', b', c' dan a", b", c" adalah titik ikat a, b, dan c ke garis ukur AB. Diusahakan segi-3 aa'a", bb'b" dan cc'c" samasisi atau sama kaki.

Pengikatan titik a, b, dan c ke garis ukur AB lebih sederhana bila dibuat dengan memperpanjang garis detil hingga memotong ke garis ukur.

Gambar 3.5: Pengukuran detil cara offset cara mengikat dengan perpanjangan garis titik detil.

Pengukuran detil cara offset cara kombinasi:

Setiap titik detil diproyeksikan atau diikatkan dengan garis lurus ke garis ukur. Dipilih cara pengukuran yang lebih mudah di antara kedua cara.

Gambar 3.6: Pengukuran detil cara offset cara kombinasi.

Titik detil penting dianjurkan diukur dengan kedua cara untuk kontrol ukuran.

3.1.3 Kesalahan pengukuran cara offset

Kesalahan arah garis offset a dengan panjang l yang tidak benar-benar tegak lurus berakibat:

1. Kesalahan arah sejajar garis ukur = l sin a

2. Kesalahan arah tegak lurus garis ukur = l - l cos a

Bila skala peta adalah 1 : S, maka akan terjadi salah plot sebesar 1/S x kesalahan.

Bila kesalahan pengukuran jarak garis ofset d l, maka gabungan pengaruh kesalahan pengukuran jarak dan sudut menjadi: {(l sin a ) 2 + d l 2}1/2.

3.1.4 Ketelitian Pemetaan Cara Offset

Upaya peningkatan ketelitian hasil ukur cara offset bisa dilakukan dengan :

1. Titik-titik kerangka dasar dipilih atau dibuat mendekati bentuk segitiga sama sisi

2. Garis ukur:

a. Jumlah garis ukur sesedikit mungkin

b. Garis tegtak lurus garis ukur sependek mungkin

c. Garis ukur pada bagian yang datar

3. Garis offset pada cara siku-siku harus benar-benar tegak lurusgaris ukur

4. Pita ukur harus benar-benar mendatar dan diukur seteliti mungkin

5. Gunakan kertas gambar yang stabil untuk penggambaran

3.1.5 Pencatatan Dan Penggambaran Cara Offset

Pengukuran cara offset dicatat ke dalam buku ukur yang tiap halamannya berbentuk tiga kolom. Kolom ke 1 – paling kiri, digunakan untuk menggambar sket pengukuran. Kolom ke 2 digunakan untuk mencatat hasil ukuran dengan paling bawah awal garis ukur, dan kolom ke 3 digunakan untuk mencatatat deskripsi garis offset.

Tiada bakuan untuk penggambaran cara offset. Penggambaran biasa dibuat dengan urutan pertama penggambaran garis ukur, kedua pengeplotan garis offset yang disertai dengan penyajian penulisan angka jarak ukur tegak lurus arah garis ukur.Sudut disiku diberi tanda siku.

3.2 Pengukuran Untuk Pembuatan Peta Topografi Cara Tachymetry

Salah satu unsur penting pada peta topografi adalah unsur ketinggian yang biasanya disajikan dalam bentuk garis kontur. Menggunakan pengukuran cara tachymetri, selain diperoleh unsur jarak, juga diperoleh beda tinggi. Bila theodolit yang digunakan untuk pengukuran cara tachymetri juga dilengkapi dengan kompas, maka sekaligus bisa dilakukan pengukuran untuk pengukuran detil topografi dan pengukuran untuk pembuatan kerangka peta pembantu pada pengukuran dengan kawasan yang luas secara efektif dan efisien.

Alat ukur yang digunakan pada pengukuran untuk pembuatan peta topografi cara tachymetry menggunakan theodolit berkompas adalah: theodolit berkompas lengkap dengan statif dan unting-unting, rambu ukur yang dilengkapi dengan nivo kotak dan pita ukur untuk mengukur tinggi alat.

Data yang harus diamati dari tempat berdiri alat ke titik bidik menggunakan peralatan ini meliputi: azimuth magnet, benang atas, tengah dan bawah pada rambu yang berdiri di atas titik bidik, sudut miring, dan tinggi alat ukur di atas titik tempat berdiri alat.

Keseluruhan data ini dicatat dalam satu buku ukur.

Gambar 3.7: Pegukuran jarak dan beda tinggi cara tachymetry.

Jarak datar = dAB = 100 ´ (BA – BB) cos2m; m = sudut miring.

Beda tinggi = D HAB = 50 ´ (BA – BB) sin 2m + i – t; t = BT.

3.2.1 Tata Cara Pengukuran Detil Cara Tachymetri Menggunakan Theodolit Berkompas

Pengukuran detil cara tachymetri dimulai dengan penyiapan alat ukur di atas titik ikat dan penempatan rambu di titik bidik. Setelah alat siap untuk pengukuran, dimulai dengan perekaman data di tempat alat berdiri, pembidikan ke rambu ukur, pengamatan azimuth dan pencatatan data di rambu BT, BA, BB serta sudut miring m.

  • Tempatkan alat ukur di atas titik kerangka dasar atau titik kerangka penolong dan atur sehingga alat siap untuk pengukuran, ukur dan catat tinggi alat di atas titik ini.

  • Dirikan rambu di atas titik bidik dan tegakkan rambu dengan bantuan nivo kotak.

  • Arahkan teropong ke rambu ukur sehingga bayangan tegak garis diafragma berimpit dengan garis tengah rambu. Kemudian kencangkan kunci gerakan mendatar teropong.

  • Kendorkan kunci jarum magnet sehingga jarum bergerak bebas. Setelah jarum setimbang tidak bergerak, baca dan catat azimuth magnetis dari tempat alat ke titik bidik.

  • Kencangkan kunci gerakan tegak teropong, kemudian baca bacaan benag tengah, atas dan bawah serta cata dalam buku ukur. Bila memungkinkan, atur bacaan benang tengah pada rambu di titik bidik setinggi alat, sehingga beda tinggi yang diperoleh sudah merupakan beda tinggi antara titik kerangka tempat berdiri alat dan titik detil yang dibidik.

  • Titik detil yang harus diukur meliputi semua titik alam maupun buatan manusia yang mempengaruhi bentuk topografi peta daerah pengukuran.

3.2.2 Kesalahan pengukuran cara tachymetri dengan theodolit berkompas

  • Kesalahan alat, misalnya:
    a. Jarum kompas tidak benar-benar lurus.
    b. Jarum kompas tidak dapat bergerak bebas pada prosnya.
    c. Garis bidik tidak tegak lurus sumbu mendatar (salah kolimasi).
    d. Garis skala 0° - 180° atau 180° - 0° tidak sejajar garis bidik.
    e. Letak teropong eksentris.
    f. Poros penyangga magnet tidak sepusat dengan skala lingkaran mendatar.

  • Kesalahan pengukur, misalnya:
    a. Pengaturan alat tidak sempurna ( temporary adjustment ).
    b. Salah taksir dalam pemacaan
    c. Salah catat, dll. nya.

  • Kesalahan akibat faktor alam, misalnya:
    a. Deklinasi magnet.
    b. atraksi lokal.

3.2.3 Pengukuran Tachymetri Untuk Pembuatan Peta Topografi Cara Polar.

Posisi horizontal dan vertikal titik detil diperoleh dari pengukuran cara polar langsung diikatkan ke titik kerangka dasar pemetaan atau titik (kerangka) penolong yang juga diikatkan langsung dengan cara polar ke titik kerangka dasar pemetaan.

Unsur yang diukur:
a. Azimuth magnetis dari titik ikat ke titik detil,
b. Bacaan benang atas, tengah, dan bawah
c. Sudut miring, dan
d. Tinggi alat di atas titik ikat.

Gambar 3.8: Pengukuran topografi cara tachymetri-polar.

A dan B adalah titik kerangka dasar pemetaan,
H adalah titik penolong,
1, 2 ... adalah titik detil,
Um adalah arah utara magnet di tempat pengukuran
.

Beradasar skema pada gambar, maka:
a. Titik 1 dan 2 diukur dan diikatkan langsung dari titik kerangka dasar A,
b. Titik H, diukur dan diikatkan langsung dari titik kerangka dasar B,
c. Titik 3 dan 4 diukur dan diikatkan langsung dari titik penolong
H.

3.2.4 Pengukuran Tachymetri Untuk Pembuatan Peta Topografi Cara Poligon Kompas.

Letak titik kerangka dasar pemetaan berjauhan, sehingga diperlukan titik penolong yang banyak. Titik-titik penolong ini diukur dengan cara poligon kompas yang titik awal dan titik akhirnya adalah titik kerangka dasar pemetaan. Unsur jarak dan beda tinggi titik-titik penolong ini diukur dengan menggunakan cara tachymetri.

Posisi horizontal dan vertikal titik detil diukur dengan cara polar dari titik-titik penolong.

Gambar 3.8: Pengukuran topografi cara tachymetri-poligon kompas.

Berdasarkan skema pada gambar, maka:
a. Titik K1, K3, K5, K2, K4 dan K6 adalah titik-titik kerangka dasar pemetaan,
b. Titik H1, H2, H3, H4 dan
H5 adalah titik-titik penolong
c. Titik a, b, c, ... adalah titik detil.

Pengukuran poligon kompas K3, H1, H2, H3, H4 , H5, K4 dilakukan untuk memperoleh posisi horizontal dan vertikal titik-titik penolong, sehingga ada dua hitungan:
a. Hitungan poligon dan
b. Hitungan beda tinggi.

Tata cara pengukuran poligon kompas:

1. Pengukuran koreksi Boussole di titik K3 dan K4,

2. Pengukuran cara melompat (spring station) K3, H2, H4dan K4.

3. Pada setiap titik pengukuran dilakukan pengukuran:
a. Azimuth,
b. Bacaan benang tengah, atas dan bawah,
c. Sudut miring, dan
d. Tinggi alat.

Tata cara hitungan dan penggambaran poligon kompas:

1. Hitung koreksi Boussole di K3 = AzG. K31 - AzM K31
2. Hitung koreksi Boussole di K4 = AzG. K42 - AzM K42
3. Koreksi Boussole C = Rerata koreksi boussole di K3 dan
K4
4. Hitung jarak dan azimuth geografis setiap sisi poligon.
5. Hitung koordinat H1, ... H5 dengan cara BOWDITH atau TRANSIT.
6. Plot poligon berdasarkan koordinat definitif.

Contoh hitungan ( polKompas ) menggunakan MS Excel terlampir.

Selain hitungan cara numeris, poligon kompas juga bisa digambar kesalahan ukurnya dengan cara mengeplotkan langsung data yang diperoleh dari tahapan hitungan 1, 2, 3 dan 4 di atas. Seharusnya, bila tidak ada kesalahan ukur titik K4 hasil pengeplotan langsung berdasarkan koordinat dan pengeplotan titik K4 dari polygon kompas seharusnya berimpit. Penyimpangan grafis yang tidak terlalu besar atau dalam selang toleransi dikoreksikan secara grafis pada masing-masing titik poligon sebanding jumlah jarak poligon di titik poligon.

Tata cara hitungan beda tinggi pada poligon kompas:

1. Hitung beda tinggi antara titik-titik poligon,
2. Seharusnya jumlah beda tinggi = beda tinggi titik awal dan akhir
3. Bila terdapat selisih diratakan matematis ke setiap titik,
4. Hitung ketinggian definitif masing-masing titik poligon.

Pertanyaan dan Soal Latihan

1. Buat perbandingan pengukuran pengikatan cara offset dengan pengikatan pada penentuan posisi cara mengikat ke muka dan ke belakang.

2. Apakah mungkin pada pengukuran tachymetri BT = (BA + BB)/2 ?
Apa keuntungan mengatur bacaan BT pada pengukuran tachymetri = tinggi alat ?

3. Apa keuntungan dan kerugian pengikatan arah menggunakan arah utara magnet ?

Rangkuman

Peta planimetris pada daerah datar dengan cakupan tidak luas bisa dibuat dengan cara offset. Pengukuran untuk pembuatan peta cara tachymetri menggunakan theodolite berkompas banyak digunakan untuk pembuatan peta topografi pada berbagai jenis medan pengukuran. Pengukuran poligon cara tachymetri berbantukan theodolite berkompas memungkinkan pengadaan KDH dan KDV pembantu dan sekaligus pengukuran titik detil.

Daftar Pustaka

  1. Purworhardjo, U., (1985), Menghilangkan Kesalahan Sistematik Padapendapatan Ukuran Serta Penerapan Dalil-dalil Kesalahan dan Perataan Kwadrat Terkecil, Jurusan Teknik Geodesi ITB, Bandung.

  2. Purworhardjo, U., (1986), Ilmu Ukur Tanah Seri C - Pengukuran Topografi, Jurusan Teknik Geodesi ITB, Bandung, Bab 4 dan 5.

  3. Sosrodarsono, S. dan Takasaki, M. (Editor), (1983), Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan, PT Pradnya Paramita, Jakarta, Bab 5.

  4. Wirshing, J.R. and Wirshing, R.H., (1985), Teori dan Soal Pengantar Pemetaan – Terjemahan, Introductory Surveying, Schaum Series, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1995, Bab 14.

  5. Wongsotjitro, Soetomo, (1980), Ilmu Ukur Tanah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Bab 4 dan 8.



Meditation May Increase Gray Matter

Ternyata telah di buktikan secara sains bahwa jika seseorang meditasi ternyata dapat meningkatkan gray matter atau otak kecerdasan. Dan meditasi ini telah di ajarkan oleh setiap agama termasuk agama Islam yang di ajarkan untuk selalu sedikitnya meditasi dalam lima waktu yang berbeda atau sholat. ini lah berita tentang meditation may Increase gray matter.
ScienceDaily (May 13, 2009) — Push-ups, crunches, gyms, personal trainers — people have many strategies for building bigger muscles and stronger bones. But what can one do to build a bigger brain?
Meditate

That's the finding from a group of researchers at UCLA who used high-resolution magnetic resonance imaging (MRI) to scan the brains of people who meditate. In a study published in the journal NeuroImage and currently available online (by subscription), the researchers report that certain regions in the brains of long-term meditators were larger than in a similar control group.
Specifically, meditators showed significantly larger volumes of the hippocampus and areas within the orbito-frontal cortex, the thalamus and the inferior temporal gyrus — all regions known for regulating emotions.

"We know that people who consistently meditate have a singular ability to cultivate positive emotions, retain emotional stability and engage in mindful behavior," said Eileen Luders, lead author and a postdoctoral research fellow at the UCLA Laboratory of Neuro Imaging. "The observed differences in brain anatomy might give us a clue why meditators have these exceptional abilities."

Research has confirmed the beneficial aspects of meditation. In addition to having better focus and control over their emotions, many people who meditate regularly have reduced levels of stress and bolstered immune systems. But less is known about the link between meditation and brain structure.

In the study, Luders and her colleagues examined 44 people — 22 control subjects and 22 who had practiced various forms of meditation, including Zazen, Samatha and Vipassana, among others. The amount of time they had practiced ranged from five to 46 years, with an average of 24 years.

More than half of all the meditators said that deep concentration was an essential part of their practice, and most meditated between 10 and 90 minutes every day.

The researchers used a high-resolution, three-dimensional form of MRI and two different approaches to measure differences in brain structure. One approach automatically divides the brain into several regions of interest, allowing researchers to compare the size of certain brain structures. The other segments the brain into different tissue types, allowing researchers to compare the amount of gray matter within specific regions of the brain.

The researchers found significantly larger cerebral measurements in meditators compared with controls, including larger volumes of the right hippocampus and increased gray matter in the right orbito-frontal cortex, the right thalamus and the left inferior temporal lobe. There were no regions where controls had significantly larger volumes or more gray matter than meditators.

Because these areas of the brain are closely linked to emotion, Luders said, "these might be the neuronal underpinnings that give meditators' the outstanding ability to regulate their emotions and allow for well-adjusted responses to whatever life throws their way."

What's not known, she said, and will require further study, are what the specific correlates are on a microscopic level — that is, whether it's an increased number of neurons, the larger size of the neurons or a particular "wiring" pattern meditators may develop that other people don't.

Because this was not a longitudinal study — which would have tracked meditators from the time they began meditating onward — it's possible that the meditators already had more regional gray matter and volume in specific areas; that may have attracted them to meditation in the first place, Luders said.

However, she also noted that numerous previous studies have pointed to the brain's remarkable plasticity and how environmental enrichment has been shown to change brain structure.

Other authors of the study included Arthur Toga, director of UCLA Laboratory of Neuro Imaging; Natasha Lepore of UCLA; and Christian Gaser of the University of Jena in Germany. Funding for the study was provided by the National Institutes of Health. The authors report no conflicts of interest.
Adapted from materials provided by University of California - Los Angeles.

Sifat-Sifat Fisik Tanah

Kali ini saya ingin menulis tentang mata kuliah yang akan saya pelajari. sebenarnya seh pelajaran ini akan saya pelajari sekitar tanggal 1 Juli 2009 nanti yaitu Mekanika Tanah 1 (Sifat-sifat fisik tanah). Hitung-hitung mulai belajar dari sekarang jadi saya posting saja di sini, khan kata sang politisi kita sekarang dengan jargon politiknya "lebih cepat lebih baik" (hehhehe).

Sifat fisik tanah : tekstur, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, aerasi.

Tanah terdiri dari 3 komponen :
  • Komponen padatan terdiri atas mineral anorganik dan bahan organik.
  • Komponen cair (liquid) terdiri atas air, ion yang terlarut, molekul, gas yang secara kolektif disebut : cairan tanah (soil solution).
  • Komponen gas tanah seperti gas atmosfer di atas tanah tetapi berbeda proporsinya.
Volume tanah = volume pori (air, gas) + volume padatan = konstan; untuk tanah yang tidak mengembang/swelling.

Tanah berswelling tidak konstan tergantung dari kandungan airnya.

Tanah ideal = 50% padatan dan 50% pori (45% bahan anorganik,5% organik)
Pori = makro berisi udara atmosfer berisi air (air ditahan oleh gaya adhesi partikel tanah dengan air melawan gaya gravitasi).

Untuk analisis diperlukan berat tanah kering mutlak. Caranya dengan mengringovenkan pada suhu 105°C selama 48 jam yang dikenal dengan nama oven-dry-weight. Jumlah kalsium, potassium, bahan organik, air tanah dihitung berdasarkan oven-dry-weight.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |