11 Oktober, 2009

Ternyata kakek moyang kita sudah tahu teknologi tahan gempa

Gempa yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia ini membuat seluruh dunia bersedih, yang berkekuatan 7,3 skala Richter pada 2 September 2009 yang berpusat di laut selatan Tasikmalaya membuat Pulau Jawa bergetar lalu disusul tanggal 31 september 2009 di padang dengan 7,6 skala Richter. Banyak korban yang berjatuhan dan sebagian besar dikarenakan tertiban reruntuhan bangunan, sehingga seperti biasa para ahli struktur yang menjadi sorotan. Apakah bangunan itu telah masuk standar bangunan yang aman?

Namun ada sebuah keajaiban yang terjadi di Kampung Naga yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat . Rumah-rumah di kampung Naga tersebut masih berdiri dengna kokohnya seakan-akan ingin menunjukan kepada bangsa ini, "ini adalah kearifan lokal yang patut dibanggakan".Di kampung ini tidak ada internet untuk mendapatkan informasi bahkan listrikpun belum masuk namun dapat bertahan di waktu gempa yang sedangkan di tempat lain luluh lantak.




Fenomena seperti ini menurut Karl Popper dan EH Gombrich berupa teori deterministik yang disebut dengan logika situasi yaitu bahwa manusia dibatasi oleh waktu, tempat, dan kondisi, yang meskipun demikian masih memiliki derajat kebebasan untuk mencapai tujuan alternatif. Umumnya, faktor alam, seperti iklim dan geografi-termasuk adanya gempa bumi-sangat relevan dalam pengembangan desain bangunan (John A Walker: 1989). Padahal kalo sekarang untuk membuat bangunan tahan gempa setidaknya mengunakan software komputer seperti : SAP 2000. hehehe

Konsep bangunan tahan gempa :

Konsep bangunan tahan gempa adalah bangunan yang diupayakan agar bisa selalu dalam keadaan utuh / satu kesatuaan walaupun di berikan gaya/gempa yang telah direncanakan. yah seperti hukum elastisitas lah. hehehe. usaha yang di lakukan seperti penerapan sambungan-sambungan yang kuat terhadap gaya geser.

Seperti jenis-jenis bangunan tahan gempa berikut

1. STRUKTUR JENIS A

Adalah portal-portal beton bertulang dengan tembok sebagai panel-panel pengisi yang direncanakan untuk ikut menahan beban gempa melalui aksi composit, struktur ini juga mengandung tembok-tembok yang terbuat dari mutu bahan yang lebih rendah yang tidak diperhitungkan sebagai unsur penahan beban lateral, tembok penahan beban lateral direncanakan untuk menahan beban gempa secara elastic pada waktu terjadi gempa, akan tetapi akan rusak berat saat terjadi gempa yang sangat kuat, tetapi dengan dipasangnnya kolom-kolom praktis dan tulangan jangkar secukupnya kedalam semua tembok, maka pada peristiwa keruntuhan tembok secara tak terkendali akibat beban geser dapat di cegah, sehingga ancaman jiwa bagi para penguhuni gedung dapat dibatasi, dalam hal ini beban gempa hanya dipikul oleh portal-portal.

2. STRUKTUR JENIS B

Adalah portal-portal beton bertulang dengan tembok pengisi walaupun tidak dipisahkan dari portal, tetapi tidak dianggap ikut berperan dalam menahan beban gempa, tetapi mempengaruhi perilaku struktur terhadap gempa.

Portal-portal yang direncanakan untuk menahan seluruh beban gempa dan beban gravitasi, di beri pendetailan yang memungkinkan struktur tersebut berperilaku secara daktail. Hal ini membatasi peluang bagi struktur untuk runtuh pada gempa-gempa yang kuat.

Tinggi Stuktur Jenis B tidak boleh melampaui 7 tingkat atau 25 meter dengan penempatan tembok-tembok yang simetris

3. STRUKTUR JENIS D

Adalah portal-portal beton bertulang, dimana tembok-tembok dan panel-panel pengisi kaku lainnya dipisahkan secara nyata dari strukturnya untuk mencegah agar tidak terjadi perubahan perilaku struktur terhadap gempa.

Portal-portal direncanakan sedemikian rupa,sehingga apabila mengalami beban gempa yang melampaui taraf beban gempa rencana menurut peraturan, pelelehan akan terjadi sebagian pada balok-balok , perilaku demikian menjamin terjadinya pemencaran energi gempa.

Nenek moyang terdahulu telah mengetahui prinsip seperti itu maka jika kita lihat bangunan tradisional yang masih berdiri kokoh walaupun digoyang gempa memiliki karakteristik tertentu seperti

Pondasi
Seperti Pondasi yang digunakan pada rumah kampung Naga terbuat dari kayu yang ditempelkan pada kaki-kaki yang terbuat dari batu. Sedangan rumah terbuat dari bambu dan beratap ijuk. sehingga pada saat terjadinya gempa rumah akan menerima gaya yang merata.

Dinding
Dinding yang digunakan adalah dengan material kayu dan bambu yang menjadikan rumah ini menjadi ringan dan lentur.

Atap
Atap yang di gunakan masyarakat Kampung Naga pun tidak dengan genting melainkan seperti ijuk yang ringan namun sesuai dengan fungsinya.

Mungkin kita sebaiknya banyak belajar dengan hasil karya nenek moyang kita karena nenek moyang kita pun telah mewaspadai bencana-bencana yang akan terjadi dan bukan untuk dilupakan karena terkadang pengalaman dan teori harus saling seimbang agar mendapatkan hal yang ingin kita capai.

Sebenernya juga belom dapet mata kuliah tentang bangunan tahan gempa jadi kalo ada yang salah koreksi ya. hehehe.

Source :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/30/11201185/.Gempa.dan.Rumah.Tradisional.Sunda
http://strukturrumah.com/prinsip-dasar-membuat-rumah-tahan-gempa/
http://www.unhabitat-indonesia.org/files/cli-91.pdf

www.amiboyz.co.cc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

Share |